Mendikbud: Kami Fokus Pada Penyelesaian Masalah

Minggu, 21/04/2013

Jakarta --- Tertundanya pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA di 11 provinsi menjadi cambuk bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di tengah tudingan-tudingan yang diarahkan kepada kementerian ini, Mendikbud Mohammad Nuh menegaskan, pihaknya hanya fokus pada penyelesaian permasalahan. Selain menunda pelaksanaan ujian SMA, untuk pencetakan naskah soal UN SMP di 11 provinsi tersebut pun dialihkan ke tiga percetakan lain yang juga merupakan pemenang tender pencetakan naskah UN.

“Kami tidak ingin terjebak dalam polemik yang macam-macam, tapi kami fokus dalam minggu yang lalu sampai hari-hari ini untuk mempersiapkan agar UN smp bisa terlaksana sesuai jadual,” tegas Mendikbud saat konferensi pers di Kantor Kemdibud, Minggu (21/04) siang.

Mendikbud mengatakan, pihaknya sudah memetakan akar persoalan dari tertundanya pelaksanaan UN SMA, yaitu ada di percetakan dalam penyiapan bahan naskah ujian. Oleh karena itu, pada Senin malam (15/04), dirinya melakukan komunikasi dengan BSNP dan Inspektorat Jenderal untuk mengambil alih pencetakan soal UN SMP, yang semula dimenangkan oleh PT Ghalia Indonesia Printing untuk 11 provinsi, kemudian dipindahkan ke tiga percetakan lainnya. “Karena kami sadar betul kalau diteruskan (dicetak Ghalia) nasibnya akan sama dengan yang SMA,” tuturnya.

Tiga percetakan tersebut, kata Menteri Nuh, memiliki kewenangan mencetak naskah UN, karena mereka juga merupakan pemenang tender. Adapun tiga percetakan tersebut adalah PT Pura Baru (Kudus) untuk menangani naskah provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, dan Gorontalo; PT Temprina (Surabaya) untuk provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan; dan yang terakhir adalah PT Jaswindo (Sidoarjo) untuk provinsi  NTT dan NTB. Sedangkan PT. Ghalia sendiri hanya mencetak untuk provinsi Bali. Ketiga percetakan tersebut hanya mendapatkan waktu tiga hari untuk proses pencetakan.

“Dalam waktu 3 hari, karena mereka mulai kerja Selasa (16/04), kan kita putuskan Senin malam, sampai Kamis (18/04), alhamdulillah titik yang paling kritis utk 11 provinsi bisa kita atasi dalam penggandaan soal,” kata Mendikbud.

Hingga saat ini soal-soal di 11 provinsi tersebut telah dipastikan sampai di ibukota provinsi masing-masing. Untuk distribusi ke kabupaten/kota, lanjut Menteri Nuh, sedang dalam perjalanan. Dengan demikian, diharapkan naskah tersebut akan sampai tepat pada waktunya sehingga UN SMP yang akan dilaksanakan besok (22/04) dapat dilakukan sesuai jadual dan serentak.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Aman Wirakarta Kusuma, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Dalam kondisi krisis seperti ini, pihaknya lebih berkonsentrasi menangani ujian ini dengan baik, cermat, dan mencoba menyelamatkan para siswa yang akan ujian. Menurutnya, yang paling penting adalah mencari solusi. Dan komunikasi dengan publik dilakukan satu pintu melalui Mendikbud. “Kami dari BSNP membantu pak Menteri mencari solusi. Untuk mencari bagaimana ini bisa terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, teman-teman dari BSNP juga bekerja keras, agar bagaimana ini bisa terlaksana dengan baik,” katanya.

Tak hanya Kemdikbud, proses distribusi naskah soal ke 11 provinsi tersebut juga melibatkan setidaknya 400 mahasiswa IPB serta TNI dan Polri. Untuk itu, Mendikbud mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terutama TNI dan Polri, yang bersedia sekuat tenaga memobilisir angkutan udara dan angkutan daratnya untuk membantu distribusi. “Terus terang kalau tidak dibantu TNI Polri, saya ndak yakin, bahkan sudah bisa dipastikan lebih baik mundur. Karena ndak mungkin mendistribusikan naskah yang begitu banyak untuk 11 provinsi dalam waktu yang relatif pendek,” katanya. (AR)

Berita dan Opini Terkait Kurikulum 2013