Monitoring dan Evaluasi Program SM3T (III)

Mon, 02/13/2012 - 07:00

“Ibu, saya Rizki. Saya ditugaskan di SD Ramuk, kecamatan Pinupahar. Ibu, tempat saya sangat jauh dari kecamatan. Saya harus berjalan melintasi bukit dan menembus hutan serta menyeberangi banyak sungai, jika saya akan ke kecamatan, dengan jarak tempuh lebih dari 5 jam. Makanya ketika ada supervisi tempo hari, saya tidak bisa menemui ibu di kecamatan. Ibu, sebenarnya saya sangat berat meninggalkan kepala sekolah, guru-guru, dan murid-murid saya di sini. Tapi saya tidak yakin saya kuat tinggal di sini.”

Itulah kalimat pesan pendek yang diterima di handphone Prof Luthfiyah Nurlaela, Koordinator SM3T Unesa, dari salah seorang peserta Program SM3T bernama Rizki Sugiarto, alumni Unesa dari Jurusan PGSD.

Nama seperti nama laki-laki itulah yang telah “mengecoh” kepala sub TK-SD Kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Dinas PPO) Sumba Timur, sehingga dia harus nrimo ditempatkan seorang diri, di SD Ramuk, Kec. Pinupahar, Sumba Timur, NTT, desa yang sangat-sangat terpencil.

Jika saja Kasub TK-SD tahu bahwa dia sebenarnya berjenis kelamin perempuan, mungkin tidak akan ditugaskan di tempat seperti ini.

Saat melakukan kegiatan monitoring-evaluasi akhir Januari 2012 lalu, Lutfiyah mengaku tidak pernah  membayangkan akan tiba di tempat itu. Desa Ramuk, Kec. Pinupahar. Itulah Tempat di mana Rizki Sugiarto di tempatkan.

Saya, kata Lutfiyah, menerima sms Rizki sekitar tiga minggu lalu, sehari setelah kami melakukan supervisi di semua kecamatan. Sms-nya masuk sekitar pukul 21.00 WIB  (pukul 22.00 WITA).

Intinya cerita guru besar bidang makanan ini mengatakan, Rizki meminta dirinya untuk mengusulkan ke dinas PPO agar dia dipindahkan ke tempat yang lebih dekat dengan kecamatan Pinupahar. Tapi di sisi lain, dia merasa sangat berat meninggalkan sekolahnya.

“Saya merasakan ada pergumulan dalam batinnya. Antara tetap tinggal, dan keraguannya untuk bisa bertahan. Saya membesarkan hatinya dengan membalas sms-nya: “Rizki, kalau aku jadi kamu, maka aku akan terus berusaha bertahan, demi anak-anak, demi sekolah, dan demi masyarakat desa Ramuk yang sudah terlanjur berharap banyak kepadamu. Kamu bisa memberi banyak manfaat bagi mereka. Coba pertimbangkan itu....'

Tapi malam itu, Rizki tetap pada keputusannya, minta dipindahkan. Besok paginya, sms Rizki masuk lagi di ponsel saya. “Ibu,  kalau memang tidak memungkinkan, saya tidak apa-apa tidak dipindahkan. Saya akan terus berusaha bertahan di desa Ramuk.”

Berhari-hari setelah itu, Lutfiyah tidak pernah lagi menerima sms Rizki. Namun beberapa temannya yang justru ber-sms. Menyampaikan keprihatinan mereka pada kondisi Rizki dan tempat tinggalnya.

Gadis kelahiran Ciamis, 14 Desember 1988 ini tinggal sendirian di aula sekolah. Tanpa listrik. Pernah suatu hari,  Rizki mendapati gembok pintu aula tempatnya tinggal seperti dicongkel orang. Malam hari, beberapa kali dia mendengar seseorang atau “sesuatu” mengetuk-ngetuk pintu. Karena prihatin dengan kondisi Rizki, hampir seminggu dua kali, teman-temannya yang ada di desa Umandudu (desa yang terletak di atas desa Ramuk, bisa ditempuh sekitar 2 jam dengan berjalan kaki), bergantian menemaninya.

Kondisi itulah yang membuat Lutfiyah memutuskan untuk menjangkau tempat Rizki. “Selain itu, saya merasa tidak fair kalau saya tidak tahu di mana tempat tugas para peserta SM3T. Ketika kita menugaskan seseorang, maka seharusnya kita tahu seperti apa tempat mereka bertugas tersebut,” katanya.

 

Mengoyak Perasaan

Itu pula yang disampaikan Rektor Unesa Prof Muchlas Samani ketika ikut didalam kegiatan Monev kali ini. Muchlas Samani harus bisa memastikan dimana tempat para peserta Program SM3T ditugaskan, kondisinya seperti apa, dan medannya seperti apa.

“Saya memang minta ke daerah yang paling sulit medannya untuk dijangkau. Untuk memastikan keberadaan para peserta SM3T,” kata Muchlas Samani.

Perjalanan menuju sekolah Rizki harus melalui Desa Tawui, desa terdekat di Kec. Pinupahar. Kemedia menuju Desa Lelunggi, desa yang masih bisa dijangkau dengan mobil. Setelah itu ditempuh dengan sepeda motor dengan cara “langgar” kali yang cukup lebar.

Pada kali atau sungai pertama yang diseberangi, meski tidak terlalu dalam, namun arusnya cukup deras. Setelah itu ada delapan sungai lagi yang harus “dilanggar”. Selebihnya adalah jalan setapak, berbatu-batu terjal. Berlubang-lubang penuh kubangan, berlumpur, naik-turun, berkelok-kelok tajam, dan jurang-jurang menganga di sisi kiri-kanan, yang hanya berjarak sekitar satu meter dari jalan setapak.

Tak terhitung berapa kali penumpang yang dibonceng harus turun, karena motor tidak kuat naik saking curamnya.

Apa yang dirasakan Lutfiyah ketika sampai di SD Ramuk, bercat kusam dengan banguna sangat sederhana? “Ketika pintu aula, tempat tinggal Rizki dalam keadaan tertutup kemudian diketuk sambil memanggil namanya, dada saya berdegub keras.” katanya.

Dan Begitu pintu aula dibuka serta memunculkan tubuh mungil, cerita Lutfiyah, ia seperti tidak percaya. “Rizki kemudian menatap saya. Tangan saya langsung terkembang dan memeluknya sambil berkata. 'Kamu luar biasa, Ki. Kamu kuat, Ki...”

Suara Lutfiyah tertahan karena menahan tangis. “Ya, ibu, saya harus kuat, saya harus kuat...” kata Rizki dengan mata basah. Sambil setengah berdesis dia berbisik di telinga Lutfiyah. “Tapi beri saya teman, ibu, saya butuh teman.....”

“Saya semakin sesak menahan emosi, dan saya bilang ke Rizki, kalau saya sudah berwudhu dan mau numpang sholat.”

Rizki membawa Lutfiyah ke “kamar”nya, tentu saja ada di ruangan itu juga, hanya disekat dengan sebuah papan dan lemari plastik yang sudah koyak. Rizki kemudian menggelarkan sajadah di tempat sholat yang sekaligus menjadi tempat tidurnya itu, di lantai kusam beralas tikar.

“Di atas sajadah Rizki itulah saya menyungkurkan kepala dan menangis sepuasnya. Tangis yang sudah saya tahan sejak tadi, pecah.”

Dalam bathin saya, kata Lutfiyah menceritakan, ketabahan perempuan muda itu telah mengoyak-ngoyak perasaannya. Semangat pengabdiannya mencabik-cabik hati. Ketulusannya membuat emosi Lutfiyah runtuh.

“Jika saya yang melakoni itu semua, saya tidak yakin akan mampu melewati hari-hari dalam keadaan serba terbatas seperti ini. Tanpa teman. Dalam gelap yang hanya diterangi oleh sebuah pelita. Dalam ruangan besar yang jauh dari tetangga. Tidak ada TV, tape, radio, toko dan warung. Tidak ada alat transportasi apa pun, kecuali mau berjalan berjam-jam untuk mencapai tempat dimana ojek atau oto bisa dicapai,” kata guru besar Unesa ini.

Akhirnya, setelah melihat keadaan Rizki yang memprihatinkan, Muchlas memutuskan untuk menempatkan satu orang guru lagi di desa tersebut. Sekarang Rizki tidak sendirian lagi. Dan untuk keamanan Rizki, pintu tempat tinggalnyapun diperbaiki. (Bersambung)