KBRI Washington D.C. Dorong Pemuda Indonesia Ikuti Program Post-Doctoral Fellowship di AS  17 Maret 2022  ← Back



Washington D.C., 16 Maret 2022 --- Sejalan dengan program prioritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (Atdikbud KBRI) terus membuka peluang bagi mahasiswa dan calon mahasiswa Indonesia jenjang sarjana, pascasarjana, dan doktoral untuk melanjutkan pendidikan di Washington D.C.
 
Amerika Serikat merupakan salah satu negara terbesar dengan pendidikan tinggi yang paling maju di dunia. Kesempatan bagi para mahasiswa Indonesia untuk mengenyam pendidikan di Amerika Serikat untuk kemudian dibawa pulang ke Indonesia, merupakan suatu potensi memajukan tanah air.
 
Hal ini disampaikan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Republik Indonesia di Washington D.C, Popy Rufaidah, saat dihubungi Senin (14/3). Diakui Atdikbud Popy, banyak sekali perguruan tinggi di AS yang membuka program postdoctoral fellowship, di antaranya Harvard Medical School dan University of Michigan.
 
“Kota Boston, rumah dari Harvard Medical School, merupakan episentrum perguruan tinggi dan bioteknologi di Amerika Serikat dengan lingkungan kolaboratif tertinggi,” ucap Atdikbud Popy dalam serial Webinar Bincang Karya (Bianka) ke-24 yang digelar Selasa (1/3) di Washington D.C. Webinar yang bertema strategi untuk mendapatkan pascadoktoral (post-doctoral atau postdoc) fellowship di AS ini memberi peluang pengembangan kegiatan sejenis bagi perguruan-perguruan tinggi di Indonesia.
 
Webinar dibuka oleh Duta Besar RI di Washington D.C., Rosan Roeslani, yang mengucapkan terima kasih atas dukungan para narasumber webinar yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat. “Kami berkomitmen terus meningkatkan kerja sama di bidang riset dan pendidikan,” ucap Dubes Rosan. Pada kesempatan ini, untuk pertama kalinya para peserta mendapat informasi tentang peluang mengikuti Post-Doctoral Fellowship di AS.  
 
Dalam sesi tanya jawab, Manajer Program di Harvard Medical School Teaching University, Boston Children Hospital, Lu-Ann Pozzi mengatakan bahwa saat ini terdapat sekitar 750 peneliti (research fellow) di Boston Children’s Hospital. “Sekitar 65-70 persen fellow kami merupakan international fellow,” ucap Lu-Ann. 
 
“Untuk mengikuti program ini, Anda harus mempunyai kualifikasi pendidikan yang memadai seperti Ph.D, M.D., dan M.D. Ph.D. Anda juga harus punya motivasi tinggi serta keinginan dan kemampuan untuk bekerja mandiri. Selain itu, Anda harus memiliki pola pikir kritis. Selain itu, kemampuan menyelesaikan masalah adalah alasan yang membuat kami memilih Anda,” terang Lu-Ann. Ia menambahkan bahwa fleksibilitas, keuletan, kemampuan berfikir yang di luar kebiasaan (out of the box), publikasi jurnal serta kemampuan presentasi saintifik yang bagus juga dibutuhkan.
 
Mewakili Kampus Ann Arbor, Mingyan Liu mengungkapkan jika semua informasi terkait kelompok-kelompok riset, anggota fakultas dan kegiatan mereka dapat diakses secara umum di situs resmi perguruan tinggi. “Silakan berselancar di situs resmi kami, program apa yang mungkin cocok dengan Anda dan hubungi anggota-anggota fakultas kami, karena mereka yang sering secara rutin mencari peneliti pascadoktoral (postdoc fellow),” tutur Liu.
 
Liu menyayangkan karena tidak semua disiplin ilmu membuka program pascadoktoral karena ia merasakan banyak manfaat yang diperoleh melalui program ini. “Seperti jalan untuk memperdalam keilmuan, transisi ke area keahlian baru serta mengetahui sistem pendidikan dan riset di Amerika Serikat,” tambahnya.
 
Liu menambahkan, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika akan mengikuti program ini. “Pengetahuan yang cukup akan riset yang akan dikerjakan, pemahaman tentang durasi programnya, ekspektasi mentor, rekam jejak (track record) grup riset, sistem dukungan dan mentoring, serta apakah ada kesempatan mengajar dan menulis proposal,” tambah Liu.
 
Hadir pula penerima beasiswa (fellowship) asal Indonesia, yaitu Novalia Pishesha yang sedang menempuh Program Junior Fellowship di Harvard Society of Fellows, Harvard University dan Sebastian Adi Nugroho dari Program Electrical Engineering, University of Michigan.
 
Kesempatan ini juga digunakan Novalia untuk berbagi cerita perjalanan studinya. “Saya tidak langsung berada di posisi sekarang. Awalnya, saya tidak tahu apa-apa tentang pascadoktoral. Semua pengetahuan saya dapatkan di sini. Saya bekerja keras dan melakukan hal-hal berbeda yang memperkaya pengalaman belajar saya di Amerika,” terang Novalia.
 
Peraih gelar Ph.D. di Massachusetts Institute of Technology ini menyadari bahwa mencari sponsor untuk melanjutkan sekolah tidaklah mudah. “Maka saya berusaha memaksimalkan waktu, ketika kuliah menampilkan kemampuan terbaik. Selain itu, penting juga menampilkan keterampilan (skills) kepemimpinan dan pengabdian masyarakat. Kita perlu membangun daftar Riwayat hidup (Curriculum Vitae atau CV) kita dari awal bahkan sejak S-1, untuk masuk kualifikasi postdoc,” ujarnya.
 
Program yang ditempuh Nova, Junior Fellowship, adalah program yang ia lamar ketika masih menyelesaikan program doktoralnya. Program ini berlaku untuk semua disiplin ilmu tetapi harus mendapat rekomendasi langsung dari pembimbing program doktoral. Kini, Nova sedang sibuk mengajar mahasiswa master, mengerjakan riset, serta mengajukan dua hak paten di bawah lisensi Cerberus Therapeutics, Cambridge, yakni perusahaan didirikannya.
 
Pengalaman yang sama juga dirasakan Sebastian A. Nugroho yang merupakan Postdoctoral Research Fellow di Department of Electrical Engineering and Computer Science, University of Michigan. Sebastian yang meraih gelar doktor di University of Texas at San Antonio pada 2021 lalu, mengungkapkan beberapa alasannya mengikuti program ini. “Salah satunya adalah untuk mendapatkan pengalaman mengajar, meneliti, dan pelatihan tambahan setelah mendapatkan gelar Ph.D saya,” ucapnya.
 
Sebastian mengaku mendapatkan pengalaman yang berharga karena berkesempatan terlibat dalam pengembangan control systems for demand response with thermostatistically controlled loads. Ia yang juga merupakan Alumni Institut Teknologi Bandung turut mengapresiasi seri Webinar Bianka. “Khususnya Bianka ke-24 edisi postdoc yang saya rasa unik. Sebenarnya banyak mahasiswa postdoc dari Indonesia di AS. Jadi, saya harap Bianka lebih sering mengundang postdoc di acara-acaranya,” harap dia.
 
Dituturkan Atdikbud Popy, serial webinar ini terselenggara berkat kerja sama antara KBRI di Washington, DC., Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Fulbright AMINEF, Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), serta Kemendikbudristek RI. “Rencana kami, Bianka akan digelar secara rutin setiap minggunya dengan tema berbeda,” ungkap Popy yang dalam kesempatan ini berperan sebagai session chair webinar.
 
Turut hadir membuka acara dan memberikan dukungannya yaitu Teuku Faisal Fathani, Direktur Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat Kemendikbudristek RI; Andin Hadiyanto selaku Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Keuangan (Kemenkeu); dan Wakil Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Rekaman webinar Bianka ke-24 dapat diakses di laman resmi Facebook Atdikbud USA dengan tautan https://bit.ly/fb-watch-bianka24.*** (Atdikbud Washington D.C./ Lydia Agustina/ Denty Anugrahmawaty/ Seno Hartono).
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 969 kali