Kemendikbudristek dan INOVASI Berkolaborasi Dorong Peningkatan Kemampuan Literasi Anak di Indonesia  10 Juni 2022  ← Back



Jakarta, Kemendikbudristek – Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerja sama dengan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) menyelenggarakan lokakarya dengan tema “Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Buku Cerita Anak dari Sabang sampai Merauke: Kebijakan, Kegiatan dan Inovasi Daerah”. Kegiatan ini adalah bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan dan mendorong peningkatan sumber daya sastra dan literasi anak Indonesia, di Jakarta, (8/6).
 
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi dalam mengelola sistem perbukuan. Ia menyebut, gerakan untuk menghadirkan buku cerita anak akan menjadi pilar strategi literasi di Indonesia. Buku anak, tuturnya, harus mengutamakan unsur yang menghibur (entertainment value), sehingga menyenangkan bagi anak. Maka dari itu, ia melanjutkan, membagikan buku saja tidak cukup, tetapi butuh lebih banyak upaya lainnya, seperti pelibatan dengan guru di sekolah, perpustakaan, penyedia buku bacaannya, dan banyak lagi.
 
“Satu pesan terpenting adalah kita akan mengalokasikan anggaran yang cukup signifikan untuk proses ini,” tegas Nadiem.
 
Kegiatan lokakarya yang berlangsung secara hibrida di Kemendikbudristek ini menjadi bagian dari upaya solutif untuk menyediakan sebanyak mungkin buku bacaan yang berkualitas bagi anak-anak di seluruh Indonesia. Mendikbudristek pun menyampaikan pesannya kepada para peserta lokakarya.
 
“Inilah saatnya semua elemen mulai bergerak dalam rangka menyediakan buku bacaan anak yang berkualitas. Karena tanpa dukungan mitra-mitra seperti para penyusun (creator) buku bacaan dan para penerbit, tidak akan cukup untuk mencapai tujuan ini. Kemendikbudristek pun ingin mencetuskan perubahan permintaan pasar (market demand) dan mendorong proses menghadirkan buku bacaan yang berkualitas,” jelas Mendikbudristek.
 
Pada kesempatan ini, Kepala Pusat Perbukuan, BSKAP Kemendikbudristek, Supriyatno, memberikan penjelasannya tentang pedoman penjenjangan buku. Ia menjelaskan bahwa pihaknya ingin melindungi anak-anak dari bacaan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya. Oleh karena itu, Pusat Perbukuan BSKAP telah menerbitkan pedoman penjenjangan buku ke dalam 7 (tujuh) level di mana ini merupakan jenjang yang sudah didiskusikan dengan para penulis, pegiat perbukuan, dan ahli literasi.
 
“Upaya ini menjadi salah satu komitmen Kemendikbudristek dalam menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan,” tekannya.
 
Supriyatno menambahkan, penjenjangan buku yang diamanatkan dalam undang-undang, mewajibkan para penerbit untuk mencantumkan jenjang buku atau level pada halaman judul buku. Dengan demikian, harapannya bisa menjadi acuan bagi para pembaca agar tidak salah dalam memilih buku bacaan. Anak-anak pun mendapatkan buku bacaan yang sesuai dengan perkembangan usianya.
 
“Usia di sini hanya merupakan penyetaraan tapi bukan acuan utama penjenjangan buku, karena acuan utama tetap pada kemampuan membaca. Di sini, kemampuan membaca anak telah dibagi, mulai dari pembaca dini (A) sampai pembaca mahir (E). Karakteristik pembaca pun ada dalam klasifikasi penjenjangan buku ini dan tentunya peran pendamping pun menjadi sangat penting bagi para pembaca dini ini,” lanjut dia.
 
Untuk mendukung penguatan literasi terutama bagi anak-anak usia PAUD dan SD, tahun ini Badan Bahasa mengadakan program pencetakan dan pengiriman buku ke daerah terluar, terdepan, dan terrtinggal (3T). Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan literasi di daerah tersebut. Sebab akses buku di daerah 3T masih sangat kurang, sementara anak-anak di perkotaan bisa mengakses buku bacaan dengan mudah melalui platform digital.
 
“Bulan ini, sejumlah 12.159.000 eksemplar (jenjang SD), enam ribu eksemplar (jenjang PAUD) akan mulai distribusikan. Kami tindak lanjuti dengan pendampingan pemanfaatan buku tersebut di sekolah sasaran. Upaya ini adalah karena kami ingin memastikan buku tersebut benar dibaca dan dimanfaatkan oleh anak, dan para guru mampu mendampingi anak-anak dengan tepat saat mendampingi membaca buku,” terang Kepala Badan Bahasa, Kemendikbudristek, E. Aminudin Aziz.
 
Aminudin juga menambahkan bahwa Badan Bahasa akan membantu pengelolaan pojok baca, di mana setelah diterima sekolah, buku bacaan tersebut bisa dipelihara dengan baik dan dipakai dalam jangka waktu yang lama.
 
Selain itu, Aminudin memberikan tips menumbuhkan minat baca anak, dengan tiga prinsip utama yang dapat dilakukan. “Pertama, orang tua seharusnya memberikan buku yang anak-anak ingin baca, bukan buku yang orang tua ingin anak-anak mereka baca. Kedua, orang tua seharusnya memfasilitasi anak dengan menyediakan berbagai macam dan jenis buku. Ketiga, orang tua seharusnya memberikan buku kepada anak sesuai jenjang perkembangan dan kemampuan baca anak,” tegasnya.
 
Ketua Umum Ikatan Kurator dan Pengurus Indonesia (IKAPI), Arys Hilman, menyampaikan rasa terima kasih karena Pusat Perbukuan Kemendikbudristek, sudah banyak menyerap perspektif dan informasi dari sudut pelaku industri, termasuk dalam hal perjenjangan buku. Menurutnya, hal ini penting bagi perbaikan iklim literasi ke depan.
 
Arys mengatakan bahwa kemampuan literasi utamanya berasal dari bahan bacaan. Menurutnya ada empat aspek penting yang perlu diperhatikan. Pertama, profisiensi dalam hal membaca, bukan hanya mampu membaca tetapi ditunjang dengan tingkat kecakapan membaca. Kedua, akses baca yang bukan hanya soal adanya perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), tetapi juga tentang seperti apa kualitas bukunya yang tersedia. Ketiga, aspek alternatif dari sumber informasi, di mana literasi tidak hanya dari buku, tapi sumber informasi ialah berbagai hal yang bermanfaat bagi penerimanya. Keempat, pembiasaan membaca.
 
“Mari kita mulai dari masalah literasi yang bersumber dari buku. Saat ini bukan hanya melek hurufnya yang perlu menjadi perhatian, tetapi juga persoalan kemampuan membaca (reading performance). Sejumlah hasil riset turut mengemukakan bahwa kemampuan membaca anak Indonesia usia 15 tahun masih tergolong rendah. Anak-anak ini pun menjadi tidak mampu membedakan hoaks atau fakta,” kata Arys.
 
Studi yang dilakukan INOVASI melalui FGD sejak tahun 2021 dan juga tinjauan terhadap beberapa literatur menemukan bahwa sektor penerbitan di Indonesia sangat besar, dengan penulis serta ilustrator yang berkualitas (Perpusnas, 2018). Namun, penerbit masih didominasi di kota-kota di Pulau Jawa. “Terkait kategori penjualan buku, terlihat bahwa buku bacaan anak sangat tinggi penjualannya di mana ini seharusnya menjadi kesempatan yang dapat dimanfaatkan, dalam rangka menghadirkan lebih banyak buku bacaan anak yang berkualitas,” kata Nilam Pamularsih perwakilan dari INOVASI.
 
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, mengatakan, kriteria buku berkualitas adalah buku bacaan yang menarik sehingga anak-anak terdorong mengambil buku tersebut dan tenggelam dalam dunia imajinasi mereka. Ini fondasi yang sangat penting bagi tercapainya Profil Pelajar Pancasila, pembelajar sepanjang hayat yang bisa berpikir merdeka.
 
Sesuai arahan Mendikbudristek, kata Kepala BSKAP, upaya internalisasi minat pada literasi ini difokuskan pada jenjang PAUD dan sekolah dasar terutama di kelas awal. “Untuk itu, BSKAP bekerja sama dengan Badan Bahasa dan dibantu oleh Tim INOVASI, serta pemangku kepentingan terkait untuk menggali langkah yang bisa dilakukan oleh setiap pemangku kepentingan dalam mencari titik temu dan solusi guna mengatasi tantangan penyediaan buku bacaan yang berkualitas,” pungkasnya.
 
Acara ini turut dihadiri oleh Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikbudristek, Franka Makarim; Direktur Program INOVASI, Mark Heyward; organisasi filantropi dan mitra pembangunan; serta para pemangku kepentingan dalam ekosistem perbukuan seperti para penerbit, penulis, dan ilustrator. *** (Denty A./ Aline R.)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 824 kali