Jadikan Sekolah sebagai Tempat Pembelajaran Hidup Sehat  27 Januari 2015  ← Back

Jakarta, 27 Januari 2015—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membahas berbagai program kesehatan di sekolah di antaranya meliputi usaha kesehatan sekolah (UKS), hidup sehat untuk guru dan peserta didik, serta mengelola sekolah menengah kejuruan (SMK) rumpun kesehatan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyampaikan, salah satu materi dalam pembelajaran di sekolah adalah mendidik untuk hidup sehat. Komponen pendidikan dan institusi sekolah, kata dia, dapat berperan menjadikan sekolah sebagai tempat pembelajaran hidup sehat. “Unit-unit sekolah dijadikan sebagai unit-unit yang dapat mengubah perilaku masyarakat,” katanya saat menerima Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek dan rombongan di Kemdikbud, Jakarta, Selasa (27/1/2015).

Mendikbud mengatakan, Kemendikbud dan Kemenkes mengadakan pembicaraan awal mengenai sinergi kedua kementerian tentang program kesehatan di sekolah. Dia menginginkan ada perilaku hidup lebih baik dan lebih sehat di sekolah dimulai dari guru dan siswa.  “Sebanyak 30-40 persen anak kita masuk sekolah tidak sarapan. Kita berharap tahun pelajaran baru besok ada efek dari revolusi mental di dalam kehidupan sekolah,” katanya.

 

Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek mengatakan, etika berperilaku sehat diharapkan dimiliki oleh masyarakat termasuk orang tua dan anak-anak. Sehat, kata dia, tidak hanya fisik saja, tetapi juga secara psikis. “Guru-guru juga sangat kami harapkan beretika dan berperilaku sehat agar dicontoh oleh anak-anak sekolah,” katanya.

Nila juga menekankan pentingnya asupan makan bagi anak selama di sekolah. Mereka, kata dia, juga harus diberi kesempatan berolahraga sebelum masuk kelas. “Anak-anak sekolah dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore,” katanya.

Nila mengungkapkan berbagai masalah kesehatan di sekolah di antaranya konsumsi narkotika psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA). “Anak-anak memakai NAPZA akhirnya mengakibatkan HIV/AIDS dan akhirnya mengakibatkan perilaku seks bebas, kanker, dan sebagainya,” katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemendikbud Hamid Muhammad menyampaikan, program pembinaan kesehatan di sekolah terintegrasi dalam kurikulum terutama pendidikan kesehatan reproduksi (kespro). Pendidikan kespro, kata dia, dimulai dari SMP, SMA, dan SMK.  “Untuk tingkat anak usia dini dan sekolah dasar lebih banyak sosialisasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat,” katanya.

Hamid menjelaskan, program pembinaan kesehatan lainnya adalah membina kantin sehat, sosialisasi bahaya HIV/AIDS dan narkoba, serta lomba Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) tingkat nasional, serta program sekolah bersih dan sehat. “Kemudian yang sekarang dimasukkan ke dalam program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan DAK (Dana Alokasi Khusus) adalah program sanitasi sekolah,” katanya.

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Roy Sparringa mengatakan, saat ini pihaknya telah bekerja sama dengan Kemendikbud menjalankan program kantin sekolah. Program-program sanitasi, kata dia, juga mendapatkan perhatian khusus. “Gizi dan keamanan pangan tidak bisa dipisahkan,” katanya. (***)

 


Sumber :

 


Penulis :
Editor :
Dilihat 1674 kali