Nasionalisme dan Relijiusitas Warnai Pelaksanaan UN di SMAN 1 Yogyakarta   16 April 2015  ← Back

Yogyakarta, Kemendikbud --- Pembekalan spiritual dan semangat nasionalisme menjadi dua hal yang diberikan SMAN 1 Yogyakarta kepada peserta didiknya dalam menghadapi ujian nasional (UN). Pada pelaksanaan UN, setiap pagi sebelum UN dimulai, semua peserta didik dan guru serta pengawas menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan berdoa bersama, mengikuti instruksi dari audio pusat di sekolah.

Kepala SMAN 1 Yogyakarta, Rudy Prakanto mengatakan kegiatan menyanyikan lagu Indonesia Raya bertujuan untuk memupuk rasa nasionalisme siswa, terlebih lagi sejak ada peraturan yang mewajibkan badge bendera merah putih di seragam sekolah.

Sedangkan untuk pembekalan spiritual, SMAN 1 Yogyakarta mengadakan acara menginap bersama di sebuah Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di Yogyakarta. Dalam acara tersebut para peserta didik mengikuti acara pengajian dan mendengarkan tausyiah/ceramah. Saat dini hari, mereka dibangunkan, lalu bersama-sama menunaikan ibadah sholat tahajud dan berdoa bersama.

“Kita beri bekal secara spiritual dengan doa bersama dan sholat malam bersama untuk menyiapkan mental mereka terhadap ujian nasional ini,” ujar Rudy di Gedung SMAN 1 Yogyakarta, Selasa (14/04/2015).

Rudy mengatakan, meski UN 2015 tidak lagi menjadi penentu kelulusan, guru-guru SMAN 1 Yogyakarta tetap menekankan pentingnya UN kepada para siswa sehingga motivasi belajar siswa tidak turun dalam menjalani UN. Peserta didik diberikan pemahaman bahwa ujian nasional tetep penting karena menjadi pertimbangan untuk masuk perguruan tinggi negeri.

“Kita berikan motivasi bahwa UN adalah satu persembahan terakhir untuk memberikan kecemerlangan mereka untuk sekolah. Dari sisi lain, ujian adalah sesuatu yang pasti mengena ke siswa. Pasti ada satu persoalan yang harus mereka hadapi. Itu esensi dari sisi kehidupan,” katanya.

Karena itulah SMAN 1 Yogyakarta juga mendukung dan memfasilitas siswanya dalam persiapan akademis menghadapi UN. Tiga program utama yang dijalankan untuk persiapan akademis UN adalah Pendalaman Materi Kelas Tiga (PMKT), Bedah SKL (Standar Kompetensi Kelulusan) dan Kelas Klinis.

PMKT dan Bedah SKL diikuti seluruh siswa peserta UN, sedangkan Kelas Klinis khusus untuk siswa yang merasa pemahamannya masih kurang terhadap salah satu mata pelajaran. Siswa diperbolehkan meminta waktu khusus di luar jam belajar sekolah untuk mendapatkan Kelas Klinis. Mereka juga diperbolehkan memilih guru mata pelajaran yang disukai, yang menurut mereka lebih mudah dipahami cara mengajarnya.

Dukungan guru dan sekolah terhadap keberhasilan siswa menghadapi UN itu diakui Echa, siswa jurusan IPS di SMAN 1 Yogyakarta. “Guru kalau dimintai klinis atau tambahan juga bersedia, tinggal ngatur waktu,” tuturnya.

Sebanyak 278 siswa menjadi peserta ujian nasional 2015 di SMAN 1 Yogyakarta. Mereka terdiri dari 244 siswa jurusan IPA dan 34 siswa jurusan IPS, yang dibagi menjadi 15 ruang ujian. SMAN 1 Yogyakarta sendiri menjadi sekolah Subrayon 02, yang menjadi tempat pengambilan naskah bagi 16 SMA/SMK/MA di Kota Yogyakarta. (Desliana Maulipaksi)

 


Sumber :

 


Penulis :
Editor :
Dilihat 413 kali