Gerakan Pemenuhan Gizi bagi Siswa  29 Juni 2015  ← Back

Pada suatu pagi, seorang siswa SD di sebuah dusun nun jauh di pelosok Indonesia berangkat sekolah. Seperti hari-hari sebelumnya, dia menggendong tas punggung, memakai seragam dan sepatu, serta mengucapkan salam kepada orang tuanya.

Hal demikian dilakukannya secara rutin, setiap pagi. Bangun tidur, lalu mandi, dan mempersiapkan diri pergi ke sekolah. Sekilas tidak ada yang istimewa dari rutinitas siswa tersebut. Seluruhnya tampak baik-baik saja. Namun, jika dicermati ada yang kurang darinya. Apa itu? Sarapan!

Sudah menjadi kebiasaan sebagian siswa SD pergi ke sekolah tanpa makan pagi terlebih dulu. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, salah satu di antaranya faktor orang tuanya yang membiasakan diri tidak sarapan.

Celakanya, sepulang sekolah, belum tentu siswa tersebut mendapat makan siang dengan gizi seimbang. Setidaknya unsur protein, karbohidrat, dan serat terpenuhi. Lebih celaka lagi, siswa demikian pada umumnya tidur malam dalam kondisi lapar. Maka, tidak heran jika dalam berbagai survei, di antaranya oleh Kementerian Kesehatan, banyak siswa SD di pedesaan terindikasi kekurangan gizi (malanutrisi).

Menghadapi kenyataan demikian, kiranya kita perlu angkat topi sebagai bentuk apresiasi atas ide dan inisiatif Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana disampaikan oleh Ptl. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI), Hamid Muhammad. Dalam acara Gebyar PAUD 2014 di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (9/9) lalu, sebagai rangkaian kegiatan memperingati Hari Anak Indonesia (HAI), Hamid mengatakan bahwa layanan kesehatan dan gizi merupakan aspek penting untuk mendukung perkembangan anak usia dini. Tentu saja, aspek penting lainnya adalah pendidikan.

Dua aspek, yaitu kesehatan dan gizi, terutama gizi, merupakan faktor yang sangat menentukan masa depan anak usia dini. Hal ini karena asupan gizi memengaruhi perkembangan otak. Semakin baik asupan gizi yang diterima anak usia dini akan baik pula perkembangan otaknya. Demikian pula sebaliknya, otak tidak akan berkembang optimal  jika kecukupan gizi tidak diterima oleh anak usia dini. Bahkan sejak bayi.

Dalam mempersiapkan generasi cerdas, sudah seharusnya kita menaruh perhatian pada kecukupan gizi anak usia dini. “Ilmu gizi” yang kita miliki sebaiknya secara terus menerus disampaikan kepada orang tua, agar mereka memiliki kebiasaan menomorsatukan kebutuhan yang berkaitan dengan pemenuhan gizi bagi putra-putri mungilnya. Apabila kebiasaan ini terjadi, para orang tua akan senantiasa meneruskan kebiasaan itu hingga anak-anak beranjak dewasa. Dengan demikian, kita harapkan pada masa mendatang tidak ada lagi anak sekolah pergi ke sekolah tanpa sarapan terlebih dulu. Apalagi tidak dalam kondisi perut kosong.

Tentu saja, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak berjalan sendirian. Kementerian terkait, seperti Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri, serta masyarakat, hendaknya melakukan sebuah gerakan penyadaran bahwa pemenuhan gizi bagi anak usia dini adalah “wajib hukumnya”.  Dalam hal ini, Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) kiranya perlu diberi bobot agar program tersebut memiliki greget di tengah masyarakat.

Apabila gerakan demikian dapat dijalankan, niscaya  anak-anak usia sekolah terjamin pemenuhan gizinya.  Dampak jangka panjangnya, mereka akan menjadi generasi muda yang cerdas dan sehat. Demikianlah yang kita harapkan. Semoga terwujud. (*)


Sumber :

 


Penulis :
Editor :
Dilihat 479 kali