​Tiga Menteri Bahas Kebutuhan Pasar Tenaga Kerja  03 Maret 2016  ← Back

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Tenaga Kerja Muhammad Hanif Dhakiri, dan Menteri Perdagangan Thomas Lembong, duduk bersama membahas kebutuhan pasar tenaga kerja. Diskusi yang berlangsung di kantor Kemendikbud Jakarta, Rabu (2/03/2016) ini menyisir seperti apa kebutuhan dan berapa ketersediaan tenaga kerja yang didapat dari dunia pendidikan maupun balai-balai latihan kerja.
 
Menteri Anies mengatakan, pertemuan ini merupakan langkah awal Kemendikbud dalam menyusun panel berseri mengenai proyeksi perubahan sektor ekonomi dan tenaga kerja Indonesia 25 tahun ke depan. Panel akan dimulai dari sektor perdagangan, karena menurut Mendikbud, pemain pasar dianggap lebih punya rencana terhadap kebutuhan tenaga kerjanya. “Selama ini private sector itu lebih antisipatif, untuk itu beberapa institusi private dilibatkan,” katanya.
 
Mendag Thomas Lembong menuturkan, menurut OJK, ke depan sektor jasa terutama asuransi, akan tumbuh pesat. Pertumbuhannya mencapai 17-20 persen per tahun sehingga dibutuhkan puluhan bahkan ratusan ribu aktuaris. Aktuaris adalah ahli matematika dalam perusahaan asuransi yang menghitung-hitung risiko, premi, cadangan, dan dividen (KBBI).
 
“Perdagangan jasa itu luar biasa. Yang menentukan kita defisit atau surplus itu dari sektor jasa,” katanya.
 
Menaker Hanif Dhakiri mengatakan, balai latihan kerja (BLK) menjadi salah satu gerbang pasar tenaga kerja. Namun sayangnya, tenaga kerja lulusan BLK kebanyakan belum tersertifikasi. Akibatnya, tenaga kerja ini belum mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Dibandingkan negara tetangga, Filipina, lulusan BLK Indonesia dari sisi kuantitas lebih banyak. Indonesia mampu mencetak 1,9 juta lulusan, sedangkan Filipina 1,6 juta saja. Tapi dari segi kualitas, tenaga kerja Filipina sudah memiliki sertifikat kompetensi, tenaga kerja Indonesia belum.
 
“Peserta BLK itu 30 persen adalah lulusan SMK. Mereka masuk balai latihan kerja karena kompetensinya belum bisa dipakai langsung di perusahaan,” kata Hanif.
Melihat fakta tersebut, dunia pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan pasar. Mendikbud mengatakan, angka lulusan SMK cukup besar. Kompetensi lulusan yang belum mumpuni bisa diantisipasi salah satunya dengan program kerja sama  magang (internship) ke dunia industri di dalam maupun luar negeri. Selain itu, kata Mendikbud, kurikulum saat ini sedang direvisi. Salah satu fokus dalam revisi ini adalah menyiapkan generasi yang memiliki kompetensi abad 21. 

Sumber :

 


Penulis : aline rogeleonick
Editor :
Dilihat 1792 kali