Pentingnya Peran Keluarga dalam Pengasuhan Anak di Era Digital  28 September 2016  ← Back

Jakarta, Kemendikbud --- Keluarga memiliki peran penting dalam pengawasan perkembangan anak, terutama di era digital ini di mana internet sangat mudah diakses oleh setiap orang dengan gawai atau gadget mereka. Para orang tua harus mengetahui bahwa bukan gawai lah yang harus diproteksi, melainkan menyiapkan anak-anak kita dalam menyikapi era digital.
 
Hal tersebut diungkapkan oleh penulis buku pendidikan keluarga, Mohammad Fauzil Adhim, dalam diskusi tentang “Pengasuhan Anak di Era Digital”, di Graha Utama Kemendikbud, Jakarta, (27/9/2016).
 
Fauzil mengatakan, gawai merupakan alat komunikasi yang sangat mudah untuk diakses dan bisa diakses oleh siapapun juga baik dari kalangan muda hingga dewasa. Dengan kesibukan para orang tua mereka terkadang tidak memperhatikan apa dilakukan para anak-anaknya. Mereka tidak mengetahui dan tidak sadar akan bahaya yang ditimbulkan gawai tersebut terhadap anak-anak mereka tanpa pengawasan.
 
“Era digital itu seperti pisau bermata dua. Jika kita tidak berhati-hati maka kita akan terkena sendiri imbas dari era digital itu,” kata Fauzil.
 
Karena itu ia menekankan pentingnya kesadaran orang tua dalam mengawasi anak-anak di era digital. Orang tua juga harus sadar akan era digital. Fauzil menuturkan, masih banyak  orang tua yang tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan gawai sehingga kebanyakan orang tua dapat dikendalikan oleh anak-anak dalam penggunaan alat komunikasi digital.
 
“Di masa digital native ini, anak-anak yang lahir dengan kondisi sudah ada gawai dan internet, dengan total penggunaan tujuh jam sehari. Permasalahannya bukan pada gawainya, tetapi pada bagaimana kita menyiapkan anak-anak kita dengan cara terbuka dan terpercaya, karena di gawai itu terdapat banyak tawaran, tinggal  bagaimana kita memilihnya,” ujar Fauzil Adhim.
 
Ia menuturkan, gawai juga memiliki manfaat yang besar dalam kehidupan manusia. Beberapa manfaat dari media digital tersebut adalah melipat waktu, multitasking, dan connecting. Namun, gawai juga dapat membuat anak kecanduan hingga harus disembuhkan dengan terapi khusus.
 
 
Dari data yang didapatkan di Jepang, pada tahun 2013, sebanyak 518.000 anak harus melakukan Children Need Therapy Internet Fasting Camp. Sementara itu di Korea Selatan, internet dapat membuat sekitar 2,5 juta anak menjadi cacat, dalam arti tidak bisa hidup tanpa internet.  Kondisi ini disebut kecanduan digital (digital addiction). Karena itulah peran orang tua sangat penting dalam pengasuhan anak di era digital. (Oxsyahna Salam/Desliana Maulipaksi)

Sumber : BKLM

 


Penulis : Desliana Maulipaksi
Editor :
Dilihat 4104 kali