Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Gelar Workshop Indonesia Funds in Trust Final  23 Maret 2017  ← Back

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) bekerjasama dengan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Office Jakarta menggelar Final Workshop dan Steerring Comittee Indonesia Funds in Trust (IFIT) Meeting, pada tanggal 22 s.d. 24 Maret 2017. Workshop ini mengulas mengenai delapan proyek dari implementasi Indonesia Funds in Trust Final Workshop atau IFIT.

IFIT merupakan bentuk kontribusi Indonesia terhadap pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan melalui organisasi berskala internasional UNESCO. Sebagai informasi, pada tanggal 2 Maret 2012, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merealisasikan komitmen untuk mendukung pengembangan pendidikan, sains, dan kebudayaan melalui UNESCO dengan memberikan sumbangan sebanyak US $100 juta. Sumbangan tersebut diberikan dengan dua bentuk, yaitu pertama sebanyak US $6 juta digelontorkan untuk kepentingan emergency fund. Kedua, sebanyak US $ 4 juta disalurkan dengan bentuk Indonesia Funds in Trust.

Sebanyak delapan kegiatan pengembangan sektor pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya dan sektor komunikasi yang telah dilakukan. Kedelapan kegiatan tersebut yaitu pertama, Global Media Forum: Peran Media dalam Mewujudkan Masa Depan Bersama. Berdurasi selama hampir dua tahun, dari Februari 2013 s.d. Juni 2015, kegiatan ini berbentuk konferensi yang mengundang para jurnalis dari wilayah Asia Tenggara dan penjuru dunia. Berlangsung dari tanggal 25 s.d. 28 Agustus 2014, konferensi ini membahas mengenai peranan media dan teknologi komunikasi dan informasi dalam memelihara perdamaian, dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Tujuannya, dapat memperluas wawasan para jurnalis selaku peserta mengenai bentuk media yang bebas, plural, dan independen dapat berkontribusi terhadap tujuan tersebut. Tidak hanya itu, konferensi ini sebagai bentuk pengakuan terhadap isu-isu media dalam perdebatan di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan post 2015 (post-2015 SDGs). Hasil dari Global Media Forum berupa Bali Road Map.

Kedua, Visi Baru Kota Tua: Proyek Tahap Pertama untuk Revitalisasi Kota Tua Jakarta melalui Pariwisata Berkelanjutan dan Pelestarian Warisan Gedung Bersejarah dan Budaya. Berdurasi 13 Januari 2014 s.d. 31 Juli 2016, projek berupa dukungan upaya revitalisasi Kota Tua Jakarta dengan kerja sama UNESCO, Kemendikbud dan Pemerintah Jakarta. Proyek ini berjudul ‘Visi Baru Kota Tua: Proyek Tahap Pertama untuk Revitalisasi Kota Tua Jakarta melalui Pariwisata Berkelanjutan dan Pelestarian Warisan Gedung Bersejarah dan Budaya’.
Ketiga, Masa Depan Berkelanjutan: Mendukung Strategi Indonesia untuk Mengatasi Dampak Sosial Perubahan Iklim. Projek ini menyasar tiga lokasi dengan durasi 38 bulan, yaitu Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Selatan, Kabupaten Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut data Bank Dunia tahun 2010, dalam kurun waktu 20 tahun belakangan ini, perubahan iklim terbukti menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Indonesia. Sebagai penggerak perubahan sosial, perubahan iklim serta dampaknya terhadap masyarakat dan individu menimbulkan persoalan tak hanya terhadap pertumbuhan serta kemakmuran namun juga terhadap inklusi sosial dan realisasi hak asasi manusia. Perubahan iklim di Indonesia yang disebabkan terutama oleh deforestasi, kebakaran hutan, degradasi tanah dan lahan gambut telah menempatkan Indonesia sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia. Kondisi ini telah menimbulkan dampak pada masyarakat miskin khususnya mereka yang memiliki ketergantungan besar pada ekosistem. Sehingga, projek ini memfokuskan kepada perubahan iklim dengan anggapan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, strategi ketahanan, adaptasi dan mitigasi harus memperhitungkan dimensi sosial dari perubahan iklim.

Perubahan iklim di Indonesia telah mengakibatkan variabilitas iklim, pergeseran dan pola cuaca yang ekstrim, peningkatan suhu, curah hujan yang tinggi dan tidak menentu, serta serangkaian dampak seperti banjir dari kenaikan permukaan laut dan kekeringan berkepanjangan yang membawa konsekuensi terhadap masalah sosial-lingkungan seperti kerawanan pangan, mata pencaharian, kesehatan, dan pengelolaan lahan.

Proyek ketiga ini mempromosikan penggunaan penelitian interdisipliner, seperti ilmu pengetahuan berkelanjutan, sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan dan menerapkannya dalam pengembangan dan pemantuan kebijakan serta perencanaan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat nasional dan daerah.

Keempat, Solusi Ekologi dan Ekohidrologi untuk Manajemen Berkelanjutan di Indonesia dan Kawasan Asia Pasifik. Sejak tanggal 21 Januari 2014 s.d. 30 April 2017, kegiatan ini membidik penguatan riset kelimuan dalam bidang ekohidrologi untuk mencapai ketahanan air (water security) di Indonesia disamping peningkatan kapasitas regional sebagai pusat kajian ekohidrologi di kawasan Asia Pasifik. Kegiatan ini diimplementasikan melalui tiga komponen utama yakni memajukan riset keilmuan dalam bidang ekohidrologi, meningkatkan kapasitas dalam bidang ekohidrologi, merancang sarana penerapan ekohidrologi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air yang Terintegrasi (Integrated Water Resources Management, IWRM). Pendekatan ekohidrologi yang digunakan meliputi penerapan teknik ekologi yang terintegrasi pada kegiatan-kegiatan antropologi yang mencakup keseluruahn Daerah Aliran Sungai (DAS); serta peningkatan dan restorasi fungsi-fungsi ekologis yang ada pada DAS untuk mendukung pertumbuhan sosial dan ekonomi yang positif.


Adapun lokasi proyek berlangsung di kawasan Asia Pasifik dimana kebanyakan negara berkembang di kawasan tersebut memusatkan awal perkembangannya untuk meningkatkan sektor ekonomi sedangkan pengelolaan lingkungan dan kelestarian ekosistem bukan merupakan prioritas utama pembangunan.

Kelima, Membangun Ketahanan pada Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera sebagai bagian dari Mitigasi Perubahan Iklim dan Konservasi Keanekaragaman Hayati. Proyek ini berlangsung selama 40 bulan, di Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Proyek ini bergerak dalam membangun ketahanan Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebagai Situs warisan dunia yang telah masuk ke dalam daftar Warisan Dunia Yang Terancam. Hal ini dikarenakan ancaman terus menerus dari rencana pembangunan jalan dan perambahan di dalam kawasan TRHS.

Keenam, Membangun Model Kota di Indonesia yang Tangguh terhadap Bencana Tsunami. Selama 28 bulan, kegiatan ini memfokuskan kepada penguatan kapasitas instansi Pemerintah Daerah dalam dalam integrasi program pengurangan risiko bencana (PRB) kedalam dalam tahap perencanaan pembangunan, dengan fokus pada bahaya gempa dan tsunami. Sehingga, empat tujuan utama proyek ini adalah membangun hubungan dan kapasitas universitas lokal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan dinas-dinas terkait di daerah untuk melakukan kajian risiko tsunami; Membangun kapasitas dan kebijakan lokal Prosedur Operasional Standar (SOP) dengan fokus pada peringatan dini tsunami dan respon; Membangun kapasitas sekolah dan masyarakat dalam kaitannya dengan PRB; Mengembangkan dan menyebarkan secara luas materi pembelajaran, kesadaran, kesiapsiagaan dan pendidikan. Lokasi proyek berada di Ambon, Banda Aceh, Bandar Lampung, Bandung, Cilegon, Jakarta, Mataram, Palu, Pandeglang, Pangandaran

Ketujuh, Mempromosikan Sekolah Adiwiyata-Sekolah Ramah Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Berpendapatan Rendah untuk Masa Depan Indonesia Yang Berkelanjutan. Kegiatan ini berlangsung selama dua tahun yaitu dari tanggal 13 Januari 2014 s.d. 31 Desember 2016 dengan lokasi meliputi Sumatera (Padang, Riau, dan Jambi), Kalimantan (Pangkalan Bun, Balikpapan, dan Banjarmasin), Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Sulawesi (Kendari, Makassar) dan Nusa Tenggara Barat (Mataram) sebagai lokai proyek percontohan.

Tujuan proyek ini untuk meningkatkan sumber daya dan keahlian dari guru, tenaga kependidikan dan masyarakat dalam rangka membangun kapasitas sekolah, guru, tenaga kependidikan dan masyarakat terkait pengetahuan dan keterampilan dalam ESD dan kewirausahaan. Proyek ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya mengurangi dampak perubahan iklim dan mencapai pembangunan berkelanjutan dalam kontek masyarakat lokal. Capaian  utama dari proyek ini meliputi hasil kajian dasar untuk mengidentifikasi kebutuhan, materi pelatihan ESD, peningkatan kapasitas dan pelaksanaan program percontohan sekolah AGSI. Proyek ini telah memberikan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), 2030 terutama tujuan no : 4 "Menjamin pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua", SDG 11 "kota dan masyarakat yang berkelanjutan " dan SDG 13 "Aksi Perubahan Iklim". Serta berkontribusi terhadap program Global UNESCO yaitu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia untuk mengintegrasikan ESD kedalam program pendidikan dan pembelajaran dalam konteks lokal dan memperkuat ESD dalam agenda kebijakan internasional.

Kedelapan, Mempromosikan Dialog Antarbudaya melalui Pelatihan Peningkatan Kapasitan untuk Pengembangan Museum di Situs Warisan Dunia UNESCO di Indonesia dan Afghanistan. Proyek berlangsung dari bulan September 2014 s.d. June 2017 dengan lokasi dua negara yaitu Indonesia mencakup Jakarta, Yogyakarta, Borobudur, Denpasar dan Surabaya; Afghanistan mencakup Kabul dan Bamiyan. Sesuai dengan mandat UNESCO untuk mempromosikan pembangunan perdamaian dan kerjasama internasional melalui saling pengertian dan sesuai dengan keahlian UNESCO dalam pengamanan warisan budaya dan museum, kerja sama menitikberatkan kepada pelestarian kebudayaan dengan terlebih dahulu Kantor UNESCO Jakarta dan Kabul melakukan penilaian kebutuhan rinci termasuk pertemuan dengan pejabat berwenang di Afghanistan dan Indonesia. Salah satu kebutuhan penting yang diidentifikasi adalah pelatihan untuk pengembangan kapasitas museum, terutama di sekitar situs Warisan Dunia. *








Jakarta, 23 Maret 2017
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 4414 kali