Mendikbud Ajak Guru Indonesia di Malaysia Gali Potensi Generasi Penerus Bangsa  30 Oktober 2018  ← Back



Jakarta, Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, imbau 100 guru Indonesia yang berangkat ke Malaysia agar menggali potensi dan bakat anak-anak Indonesia di sana yang kelak menjadi muridnya. Anak-anak Indonesia di Negeri Jiran itu juga merupakan generasi penerus bangsa yang kelak harus mampu memperbaiki kualitas hidupnya dan bersaing di dunia global.

Para guru itu diberangkatkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mengajar di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di wilayah Sarawak dan Sabah selama dua tahun ke depan. PKBM atau yang lebih dikenal dengan Comunity Learning Center (CLC) adalah lembaga formal bentukan masyarakat yang muncul atas prakarsa masyarakat dan dikelola oleh masyarakat sebagai upaya memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat tersebut.

Mendikbud Muhadjir mengungkapkan, ada ratusan lebih anak Indonesia di Malaysia yang memiliki potensi sangat bagus di bidang pendidikan. Tidak sedikit dari mereka yang melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi di Indonesia seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan lainnya bahkan universitas luar negeri.

“Arahkan mereka (anak-anak Indonesia di Malaysia,-)! Saya yakin kalau saudara lakukan dengan baik dan nanti mereka berhasil, mereka tidak akan melupakan saudara sebagai guru dan akan menjadi amalan saudara yang tidak pernah ada henti-hentinya,” ujar Mendikbud Muhadjir saat memberikan amanat dalam acara Pengukuhan Guru untuk Pendidikan Anak-anak Indonesia di Malaysia 2018 di Hotel Belezza, Jakarta, Senin (29/10/2018).

Mendikbud menekankan, para guru Indonesia yang bertugas di Malaysia itu jangan berharap sarana prasarana sekolah akan memadai. Merekalah, lanjut Mendikbud, yang harus membuat lingkungan belajar murid-muridnya menjadi layak dan menyenangkan. “Sekarang Anda bertempur menghadapi kebodohan yang diderita anak-anak Indonesia di Malaysia,” tegas mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Senada hal itu, Rainly Mogot Pandin mengungkapkan, proses pembelajaran anak-anak Indonesia di Malaysia tidak sama seperti di bumi pertiwi. Hal itu meliputi perbedaan bahasa sehari-hari, kebiasaan atau perilaku siswa, dan lainnya. “Harus tetap semangat mengajarkan anak-anak Indonesia di sana bagaimanapun caranya. Perlu kesabaran yang lebih lagi dan bisa lebih kreatif membimbing anak-anak di sana,” ucap guru asal Tana Toraja Sulawesi Selatan yang telah purna tugas di Malaysia itu.

Satu dari 100 guru Indonesia yang berangkat ke Malaysia tahun ini, Nur Widayanti menuturkan, tekadnya mengajar di sana adalah untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia agar tidak bernasib sama seperti orang tuanya yang menjadi buruh di negeri orang. Dia juga ingin mereka lebih mengenal dan mencintai tanah air Indonesia melalui keanekaragaman budayanya, berbagai bahan ajar telah disiapkan seperti cerita rakyat, tarian daerah, lagu-lagu nasional serta daerah, dan lainnya.

“Sebagai seorang guru yang kreatif, harus mampu menempatkan diri di berbagai medan, tak ada rotan akar pun jadi,” kata guru asal Depok Jawa Barat itu.

Pemerintah melalui Kemendikbud hingga tahun lalu telah mengirimkan 190 guru ke Malaysia. Dengan penambahan 100 guru itu, mereka akan disebar ke 155 PKBM jenjang sekolah dasar (SD) dan 139 PKBM jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Hal ini merupakan bentuk kehadiran negara melayani pendidikan bagi anak-anak Indonesia di mana pun mereka berada. (Agi Bahari)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 866 kali