Layanan Dapodik Menjadi Daya Tarik Delegasi Nigeria  26 Maret 2019  ← Back

Jakarta, Kemendikbud--Data Pokok Pendidikan (Dapodik) menjadi daya tarik bagi delegasi perwakilan pendidikan Nigeria saat melakukan studi banding untuk belajar praktik baik layanan pendidikan dasar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), di Jakarta. Daya tarik ini terletak kepada reliabilitas data, terutama jenjang pendidikan dasar dan menengah, yang menggunakan data referensi tingkat nasional. Dapodik adalah suatu sistem pendataan yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memuat data satuan pendidikan, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, dan substansi pendidikan yang datanya bersumber dari satuan pendidikan dan terus menerus diperbaharui secara online.

"Perwakilan Nigeria mau belajar tentang pendidikan dasar, mereka ingin mengembangkan pendidikan nasional mereka sambil belajar mengenai isu-isu pendidikan yang mereka hadapi," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikdasmen Kemendikbud) Hamid Muhammad, usai menerima delegasi perwakilan pendidikan Nigeria, di Jakarta, Senin (25/3/2019).

Menurut Dirjen Hamid, data referensi merupakan kekuatan dari reliabilitas data Dapodik yang berasal dari data referensi. Data referensi, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 79 Tahun 2015 tentang Dapodik, berupa data yang terverifikasi dan tervalidasi keabsahannya untuk memenuhi kualifikasi sebagai acuan yang terdiri atas referensi data wilayah, referensi data operasional, dan referensi nomor identitas.

"Data Pokok Pendidikan, itu karena kita menganut standar dalam memberikan layanan pendidikan, jadi datanya berstandar, tim evaluasinya berstandar, kurikulum berstandar, maka semuanya standarisasi di pusat," ujar Hamid. Kemudian, data yang dipusatkan itu, lanjut Hamid, hanya data referensi misal nomor induk siswa nasional (NISN), nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK), nomor pokok sekolah nasional (NPSN). "Jadi, referensinya dapat memudahkan koordinasi, dan tidak overlapping antara sekolah dengan madrasah, madrasah dengan madrasah, madrasah dengan community learning center (CLC), siswa dengan sekolah regular, dan madrasah," jelasnya.

Olatunde Adetoyese Adekola, Ketua dari delegasi perwakilan pendidikan Nigeria, mengungkapkan aplikasi dapodik menjadi menarik karena mendorong sekolah untuk memperbaharui data secara berkala untuk kebutuhan layanan pendidikan, khususnya jenjang pendidikan dasar. "Penerapan aplikasi ini sangat mendukung bagi Nigeria untuk menerapkan data layanan pendidikan yang reliable," ujarnya.

Kepala Pusat Data dan Statistik Pendidikan (PDSP) Kemendikbud, Bastari, menjelaskan sumber data untuk Dapodik bukan hanya terbatas bagi institusi Kemendikbud, tapi koordinasi antarkementerian. "Dapodik ini bukan hanya data yang berada di bawah naungan Kemendikbud, tapi dari kementerian lain. Sehingga koordinasi juga dilakukan antar kementerian, seperti dengan Kementerian Agama, dan Kementerian Luar Negeri," jelasnya. Selanjutnya, Bastari menjelaskan, masing-masing data kemudian diberikan nomor unik dan berlaku single sebagai data referensi. "Setiap data dari antar institusi diberikan data referensi, seperti guru dan peserta didik memiliki satu nomor unik dan berlaku single," jelasnya. Bastari menegaskan untuk reliabilitas data, terdapat pengaturan penggunaan data. "Disini, pemerintah daerah, seperti kabupaten/kota hanya bisa menggunakan data untuk keperluan layanan pendidikan, tidak dapat mengubah data yang ada," jelasnya.

Selain mengenai Dapodik, berbagi praktik baik Kemendikbud dengan delegasi perwakilan pendidikan Nigeria juga membahas mengenai layanan pendidikan bagi siswa termarjinalkan, penanangan peserta didik putus sekolah atau drop out, layanan pendidikan di wilayah terpencil (remote area), dan pengelolaan guru.

Jakarta, 26 Maret 2019
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
www.kemdikbud.go.id
Sumber : Siaran Pers No: 105/Sipres/A5.3/HM/2019

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 315 kali