Menilik Nilai Pendidikan Karakter Gotong Royong Pada Tradisi Marakka Bola  06 Mei 2019  ← Back

Jakarta, Kemendikbud-- Puluhan warga mengelilingi sebuah rumah berbentuk panggung, rumah khas Kabupaten Barru, di Provinsi Sulawesi Selatan. Sekeliling rumah sudah terikat erat dengan bambu dan tali tambang. Sesekali terdengar teriakan seorang warga memberikan aba-aba, berupaya untuk mengarahkan warga. Secuplik aktivitas tersebut, dipertunjukkan dalam penyelenggaraan Pekan Hari Pendidikan Nasional beberapa waktu lalu, tepatnya pada hari Minggu (26/4/2019), di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Aktivitas itu, dinamai warga setempat dengan sebutan marakka bola, yaitu prosesi pengangkatan dan pemindahan rumah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Barru, Nashruddin, menjelaskan kepada penulis bahwa marakka bola merupakan tradisi yang sudah berlangsung turun temurun. Tradisi ini kerap dijuluki mappalette, yaitu mengajak warga sekitar untuk sukarela bersama-sama membantu warga lain yang akan berpindah rumah. Menurutnya, tradisi ini sarat dengan nilai pendidikan karakter yaitu gotong royong. "Ini kita bisa melihat, masyarakat sukarela, dan spontan datang untuk membantu mengangkat rumah yang akan dipindahkan," ujarnya.

Dikatakan Nashruddin, tradisi marakka bola masih sangat dipertahankan sampai saat ini, bertujuan untuk memperkuat solidaritas dalam kehidupan masyarakat. "Kita harus menjaga dan melestarikan semangat (spirit) gotong royong, guna memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia," jelas Nashruddin.

Gotong royong, merupakan salah satu karakter paling utama dalam Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter. Karakter ini mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama. Sri Lestaritati, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pengetahuan, Teknologi dan Ekspresi Budaya Tradisional, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, menjelaskan, nilai karakter gotong royong sangatlah penting karena mengajarkan generasi muda untuk memiliki kepedulian dan rela berkorban demi kepentingan bersama, sehingga dapat menumbuhkan rasa persatuan. “Gotong royong juga menjadi media bagi generasi muda untuk bersosialisasi, sehingga mereka akan kembali sadar bahwa dirinya adalah makhluk sosial,” ujar Lestariyati.

Sehingga menurut Lestariyati, pelestarian tradisi marakka bola sangatlah dibutuhkan sebagai sarana meningkatkan pembentukan karakter gotong royong bagi generasi muda. “Marakka bola mencerminkan kebersamaan yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat dan sarat akan nilai-nilai positif, sehingga dapat dimanfaatkan dalam pembentukan karakter dan jati diri generasi muda," ujarnya. Upaya pelestarian tradisi ini, lanjut Lestariyati, pun merupakan bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yaitu dukungan terhadap keberadaaan budaya-budaya lokal untuk pembangunan karakter bangsa. * (PS/GG)






Jakarta, 6 Mei 2019
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Sumber : Siaran Pers BKLM, Nomor: 183/Sipres/A5.3/HM/V/2019

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 1614 kali