BBM 2019 Didik Ninik Thowok: Kebebasan Berkreasi untuk Hargai Keberagaman  13 Juli 2019  ← Back


 
Yogyakarta, Kemendikbud – Hal terpenting dalam mengajarkan seni tari kepada anak-anak adalah kebebasan dalam berkreasi, tujuannya adalah untuk menumbuhkan sikap saling menghargai di antara sesama yang berbeda-beda latar belakang. Prinsip tersebut yang dijalankan oleh maestro tari kenamaan Indonesia, Didik Nini Thowok, saat membimbing para peserta program Belajar Bersama Maestro (BBM) Didik Nini Thowok.

Ditemui saat mengunjungi Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, Rabu sore (10/7), Didik bersama lima belas orang peserta BBM yang berasal dari seluruh nusantara tengah melatih beberapa gerakan tari di plataran salah satu candi. Didik menuturkan, dirinya memberikan kebebasan bagi peserta untuk berkreasi. Selain peserta memang tidak diarahkan untuk menjadi penari profesional, Ia justru ingin menonjolkan keberagaman dari peserta yang berasal dari berbagai daerah di nusantara.

“Kita bebaskan, menunjukkan toleransi, keberagaman, itu yang penting. Tidak Jawa-sentris, Bali-sentris, itu malah tidak diversity (menunjukkan keberagaman),” tutur Didik.

Nilai keberagaman itu itu juga diwujudkan dalam karya koreografi bersama yang penampilannya dapat dinikmati oleh masyarakat Yogyakarta. “Jumat malam di Malioboro kita akan ‘ngamen’,”ungkap Didik yang pada tahun ini menjadi tahun ketiga keterlibatannya pada program BBM, setelah pertama kali terlibat pada tahun 2015 dan yang kedua, pada tahun 2017.

Rencana penampilan bersama pada akhir program pun sudah dipersiapkan. Didik membekali para peserta dengan koreografi dan kostum yang sesuai dengan karya bersama mereka. “Karena mereka dari etnis yang berbeda-beda, (jadi) mencari koreografi kebersamaan,” ujarnya. Penampilan puncak ini akan dilakukan bersama-sama dengan peserta BBM seni pertunjukan Ki Mantheb Sudarsono, yang akan menampilkan kemampuan berdalang mereka, di kediaman Ki Mantheb di Kota Surakarta pada 13 Juli 2019.

Salah satu peserta asal Kalimantan Selatan, Sukma Ridya Sintya, mengungkapkan rasa bangganya dapat terpilih mengikuti program BBM pada tahun pertama Ia melamar. “Ingin ikut karena tahu eyang (Didik Nini Thowok) salah satu maestronya,” ungkap siswi SMAN 2 Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini.

Sukma yang memang sudah memiliki dasar kemampuan menari ini mengakui, meskipun Ia menyukai seni tari, namun cita-citanya masih terbuka. “Ke depan Sukma ingin profesi lain, tapi masih mendalami tari,” ujarnya. Ia pun bertekad untuk menampilkan karya terbaik pada akhir program BBM nanti.

Program BBM 2019 berlangsung mulai tanggal 1 Juli sampai dengan 14 Juli 2019, serta melibatkan dua puluh orang maestro, terdiri dari maestro seni rupa, seni pertunjukan, seni tari, seni media, dan seni musik. Selama dua minggu para siswa terlibat langsung dalam proses kreatif dan keseharian para maestro tersebut. (Prani Pramudita)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 1410 kali