Mendikbud: Proyek Membangun Desa Jadi Sarana Penguatan Karakter Mahasiswa  31 Januari 2020  ← Back

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyatakan bahwa mengerjakan proyek di desa menjadi salah satu sarana penguatan karakter mahasiswa. Sebagai calon pemimpin masa depan, mahasiswa ditantang untuk keluar dari zona nyamannya dan berlatih menghadirkan solusi dari problem yang ditemuinya di desa.

"Ini adalah salah satu jenis project yang tidak mungkin tidak terjadi penguatan karakter," disampaikan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim di hadapan para peserta Rapat Koordinasi Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Fortides) di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

"Tidak mungkin mahasiswa itu tidak tergugah hatinya. Tidak mungkin terjadi perubahan fundamental di dirinya," tambah Nadiem.

Mendikbud menekankan pentingnya pembelajaran yang diperoleh mahasiswa selama mengerjakan proyek di desa. Mahasiswa harus berkolaborasi dengan mahasiswa dari program studi (prodi) lain, dengan warga, dan pengurus desa. Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk mengakrabi keberagaman yang ditemuinya di lapangan. Hal itu menjadi pembelajaran yang bermanfaat untuk penguatan karakter.

Selain itu, dengan melakukan pengabdian di desa, maka pemanfaatan dana desa dapat lebih optimal dan tepat guna. Dijelaskan Mendikbud, proyek yang menggunakan dana desa nantinya akan didukung tenaga-tenaga muda yang memiliki intelektualitas yang siap menjadi rekan bagi para pengelola desa untuk berdiskusi dan melakukan eksekusi program. Kemudian, diawali dengan program pengabdian mahasiswa di suatu desa, maka universitas asal mahasiswa tersebut pada akhirnya akan merancang program-program lanjutan bagi desa tersebut hingga desa yang dibina menjadi mandiri.

Salah satu kebijakan Kampus Merdeka adalah memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk memilih kegiatan di luar program studinya selama tiga semester. Beragam kegiatan yang bisa dipilih di antaranya Proyek Desa, Riset, Magang/Praktik Kerja, Pertukaran Pelajar, Wirausaha, Mengajar di Sekolah, Proyek Kemanusiaan, dan Proyek Independen.

"Kalau satu dua bulan itu sulit. Kalau enam bulan, itu baru berdampak. Masyarakat juga melihat bahwa itu adalah sesuatu yang serius," ungkap Mendikbud.

Nadiem mengajak semua pihak untuk mendukung program kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengungkapkan kebahagiaannya karena program pemberdayaan masyarakat desa bersama perguruan tinggi yang selama ini dijalankan bersama Fortides mendapatkan angin segar dengan adanya kebijakan Kampus Merdeka.

"Saya mengajak kampus untuk kembali ke desa. Karena hampir semua Rektor yang hadir di sini berasal dari desa," ujar Menteri Desa PDTT.

Mendes PDTT berharap rakor Fortides ini dapat menyelesaikan konsep operasional pembangunan SDM unggul perdesaan, konsep transformasi ekonomi perdesaan, dan implementasi program Kampus Merdeka membangun desa.

Mendes PDTT optimistis program Kampus Merdeka Proyek di Desa akan dapat menyelesaikan permasalahan di desa. "Kami ingin segera bisa melaksanakan Kampus Merdeka Proyek di desa," ujar Abdul Halim Iskandar. (*)





Jakarta, 30 Januari 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: fb.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI

#MerdekaBelajar
#KampusMerdeka
#PerguruanTinggiUntukDesa
Sumber : SIARAN PERS Nomor: 014/Sipres/A6/I/2020

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 465 kali