Empat Hal yang Mempengaruhi Penguatan Mutu dan Relevansi Dosen  20 Maret 2021  ← Back



Medan, Kemendikbud — Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (DUDI) Nizam mengungkapkan, terdapat empat hal yang berkaitan dengan penguatan mutu dan relevansi dosen. Pertama, akselerasi program doktor untuk dosen, terutama program gelar ganda (double degree) dan program bersama (joint program). Dengan akselerasi, dosen dapat melanjutkan ke jenjang doktoral (S-3) dan mendapatkan pengakuan internasional.

“Jadi, dari devisa akan lebih hemat, tetapi dosen kita tetap mendapatkan pengalaman di luar negeri dengan kuliah campuran (luar negeri dan dalam negeri). Kemudian, program-program jalur cepat (fast track) untuk mahasiswa S-1 yang potensial bisa langsung S-2 dan S-3 nanti dapat dibina oleh perguruan tinggi untuk menjadi dosen di masa depan,” terang Nizam dalam acara Sosialisasi Pedoman Operasional Beban Kerja Dosen Tahun 2021 di Parapat, Sumatera Utara, (18/3).

Kedua, meningkatkan relevansi dosen. Sejalan dengan semangat Kampus Merdeka, Ditjen Dikti mendorong agar dosen mempunyai pengalaman yang mendalam dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Hal ini, kata Nizam, bukan berarti dosen melupakan kewajibannya mengajar, namun kegiatannya itu berinstitusi sehingga bermanfaat bagi dosen, perguruan tinggi, maupun DUDI.

Ketiga, penataan sistem dan karier dosen. Adapun yang menjadi penekanan utama adalah memperkuat dan memperbaiki kualitas dosen agar menjadi unggul dan kreatif, serta tersedianya ruang untuk mengaktualisasikan potensi secara maksimal.  

Keempat, program profesor kelas dunia (world class professor). “Kita bisa mengundang profesor-profesor kelas dunia untuk mengajar di kampus kita dan sebaliknya, kita mengirim para profesor dan dosen-dosen kita untuk mendapatkan pengalaman di kampus-kampus kelas dunia,” kata Nizam.

Kegiatan Kampus Merdeka bermuara pada delapan indikator utama, yaitu lulusan mendapat pekerjaan yang layak, mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus, dosen berkegiatan di luar kampus, praktisi mengajar di dalam kampus, hasil kerja dosen digunakan masyarakat dan rekognisi internasional, program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia, kelas yang kolaboratif dan partisipatif, dan serta program studi berstandar internasional.

“Muaranya adalah bagaimana lulusan kita itu lebih nyambung dengan tujuannya menjadi sarjana, yaitu dapat berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan. Kemudian, dosen juga berkegiatan di luar kampus secara terinstitusi, dosen mendapatkan pengalaman di dunia industri satu semester atau di perguruan tinggi kelas dunia,” terang Nizam.

Ia menekankan bahwa program-program tersebut akan disiapkan pendanaannya. Ia mengimbau agar perguruan tinggi menyiapkan diri untuk mengikuti berbagai program. Selain itu, Nizam juga mengundang para praktisi, profesional, CEO, dan lainnya untuk terlibat di perguruan tinggi serta berbagi pengalaman kepada mahasiswa dan dosen. Dengan demikian, penelitian dan riset dosen dapat menjawab masalah konkret di dunia kerja dan pembangunan.

Berikutnya Nizam mencontohkan keterlibatan pemangku kepentingan di luar kampus yang menurutnya dapat memberi pengaruh positif terhadap proses pembelajaran dan peningkatan kompetensi mahasiswa. “Misalnya, seorang lurah yang mungkin sudah dua atau tiga kali masa jabatan berbagi pengalaman di dalam kelas itu akan berdampak signifikan karena mahasiswa dan dosen dapat mengetahui permasalahan-permasalahan di desa dan keberhasilan pembangunan di desa,” ungkap Nizam.

Demikian pula dengan para CEO yang sudah berpengalaman di dunia industri, mereka akan bercerita masalah yang lebih nyata di dunia industri. “Kemudian hasil kerja dosen, output-nya hanya dua, satu digunakan oleh masyarakat atau dunia usaha dan dunia industri atau untuk pengambilan kebijakan, dan kedua adalah publikasi,” lanjutnya.

Konkretnya berupa karya dari dosen dalam bentuk publikasi internasional dan dapat digunakan oleh masyarakat atau dunia usaha dan dunia industri. Selain itu program studi juga terdorong bermitra dengan mitra-mitra kelas dunia, baik dengan perguruan tinggi di negara lain atau perusahaan-perusahaan kelas dunia. Nizam berharap keterlibatan tenaga profesional di perguruan tinggi dapat mempercepat pergerakan roda pembangunan di Indonesia.  (Anwar/Denty/Desliana)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 4444 kali