Atdikbud Tokyo Bersama PPI Jepang Kembangkan Aplikasi Keanggotaan  28 Juli 2021  ← Back

Tokyo, 25 Juli 2021 ---  Setiap tahun Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPIJ) melakukan pendataan pelajar Indonesia di Jepang dari jenjang sekolah menengah ke atas, mahasiswa, hingga mahasiswa pascasarjana yang tersebar dari Hokkaido hingga Kyushu melalui perpanjangan tangan koordinator daerah (korda) dan juga komisariat (komsat). Namun, belum semua mahasiswa Indonesia di Jepang terdata oleh PPIJ. Untuk itu, PPI Jepang melalui Bidang Media dan Publikasi bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Tokyo mengembangkan aplikasi keanggotaan pelajar Indonesia di Jepang berbasis situs web site.ppijepang.org/front/keanggotaan yang mudah diakses oleh pelajar/mahasiswa Indonesia di Jepang.

“Pelajar dan mahasiswa Indonesia merupakan bagian dari masyarakat akademik yang strategis menjadi kontributor dalam peningkatan kerja sama bilateral Indonesia-Jepang. Pendataan ini dapat menjadi sumber informasi bagi Kemendikbudristek bahwa Jepang banyak memiliki universitas unggulan yang dapat mendukung program internasionalisasi dan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, seperti program Indonesia International Student Mobility Award (IISMA),” ujar Dubes Heri saat memberikan sambutan secara virtual, Sabtu (17/7).

Ia pun berharap laman tersebut dapat menunjang program peningkatan mahasiswa di Jepang dengan menunjukan profil alumni dan sebaran mahasiswa sehingga data tersebut dapat diberikan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. “Saya rasa pendidikan di Jepang tidak kalah dalam segi kualitas dengan negara lainnya, bahkan mungkin lebih baik untuk beberapa bidang. Selain itu, sesungguhnya jauh lebih murah tuition fee-nya dibandingkan Amerika Serikat atau Inggris,” ungkap Dubes Heri.

Pada kesempatan ini, Atdikbud Yusli Wardiatno mengatakan bahwa program ini sudah direncanakan sejak tahun lalu, dan pengembangan aplikasinya murni dilakukan oleh anggota PPI. “Berdasarkan informasi dari Japan Student Services Organization (JASSO), jumlah mahasiswa Indonesia yang terdata hingga tahun 2019 hampir mencapai 7.000 orang, tetapi yang terdata sampai saat ini hanya sekitar 3.000 orang,” ungkap Yusli.

Oleh karena itu, melalui aplikasi berbasis situs web ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas data yang ada, dan melengkapi serta memperbaiki mekanisme yang selama ini dilakukan berupa pengiriman formulir yang diisi. “Jadi adanya aplikasi ini memudahkan semua. Aplikasi ini juga dapat menyediakan distribusi mahasiswa berdasarkan wilayah tempat studi ataupun berdasarkan bidang keilmuan yang ditekuni," tutur Yusli.

Sementara itu, Ketua Umum PPI Jepang, Yudi Ariesta Chandra menyampaikan bahwa pangkalan data anggota PPI Jepang ini diperlukan untuk mengetahui jumlah anggota PPI Jepang tanpa harus melakukan survei setiap tahunnya. Kemudian, sistem ini juga penting untuk melakukan berbagai inovasi untuk memajukan organisasi dan meningkatkan kebermanfaatan PPI Jepang. “Sistem aplikasi keanggotaan ini diharapkan dapat merangkum berbagai kebutuhan informasi yang diperlukan oleh para anggota dan alumni serta pengurus PPI Jepang di seluruh tingkatan,” ujar Chandra.

Pada kesempatan itu, Ketua Bidang Media dan Publikasi PPIJ sekaligus pengembang utama aplikasi tersebut, Andi Prademon Yunus menjelaskan tentang cara kerja pengisian aplikasi itu dan menunjukkan tampilan baru situs web PPI Jepang yang diharapkan lebih mudah diakses dan digunakan.

Selanjutnya, dilakukan pengisian aplikasi secara perdana oleh perwakilan unsur alumni dan unsur anggota PPI Jepang (mahasiswa dan pelajar) yang dipandu oleh Sekretaris Jenderal PPI Jepang, Johannes Nicolaus Wibisana. Atdikbud Yusli Wardiatno yang merupakan alumni PPI Jepang dan Sekretaris Jenderal Persatuan Alumni Dari Jepang (PERSADA), Hideki Amangku menjadi dua orang pertama yang mengisi aplikasi keanggotaan mewakili unsur alumni dan diikuti oleh Ketua PPI Jepang Korda Chubu, Ihsan Ibrahim sebagai anggota PPI Jepang.

“Peluncuran aplikasi ini merupakan hal yang baik dan berkembang dikarenakan PPI Jepang sudah memanfaatkan teknologi dengan baik sehingga kita sudah lebih siap untuk menghadapi Society 5.0 dan juga ini awal yang baik untuk PPI Jepang dan PERSADA serta semoga ke depannya bisa bekerja sama dengan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia,” ujar Hideki Amangku saat memberi sambutan.

Atdikbud Yusli menuturkan bahwa pembentukan aplikasi ini akan mempermudah pendataan dan pemantauan kondisi pelajar Indonesia di Jepang, terutama saat ada bencana alam ataupun keadaan mendesak lainnya, seperti pandemi Covid-19 saat ini.
 
Ketua PPIJ, Yudi Ariesta Chandra mengatakan bahwa aplikasi ini juga dapat mendata alumni mahasiswa Indonesia yang pernah menempuh studi di Jepang. “Anggota yang telah mendaftar di aplikasi tersebut juga akan mendapatkan kemudahan layanan pendidikan pada KBRI, seperti legalisasi ijazah atau surat keterangan pengganti akreditasi prodi. PPI Jepang juga mengharapkan bahwa dengan terkumpulnya data mahasiswa Indonesia di Jepang akan dapat membantu pihak KBRI untuk mempromosikan studi lanjutan di Jepang kepada kementerian terkait,” pungkas Chandra.

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 360/sipres/A6/VII/2021

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 1240 kali