Atdikbud RI Canberra: Program IISMA Kemendikbudristek Tarik Perhatian Australian National University  26 November 2021  ← Back



Canberra, 26 November 2021 --- Australian National University (ANU) merupakan salah satu universitas terbaik di Australia dan masuk dalam daftar 100 universitas terbaik dunia berdasarkan QS Ranking 2021. ANU termasuk salah satu universitas yang populer baik di kalangan mahasiswa maupun dosen di Indonesia, dan oleh karenanya, ANU menjadi target universitas yang turut diundang untuk dapat berpartisipasi dalam Program Indonesian International Student Mobility Award (IISMA).
 
Hal itu diungkapkan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Republik Indonesia di Canberra, Mukhamad Najib, dalam kunjungan kerjanya ke ANU, Senin (22/11). Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama yang telah terjalin antara ANU dengan pemerintah maupun universitas di Indonesia. Tim juga berisi Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya, Ghofar Ismail, dan Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Farah Fahma.
 
Kunjungan Atdikbud ke ANU diterima Direktur ANU International Office, Jonathan Dampney, dan Direktur Future Student, Amanda Barry, Senior Manager Regional Partnership Development, Anthony Nelligan, dan Manajer International Development, Dale Druhan.
 
Atdikbud Najib menyampaikan salah satu program unggulan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam rangka pelaksanaan kebijakan Kampus Merdeka-Merdeka Belajar, yaitu program IISMA.
 
IISMA, menurut Najib, merupakan program beasiswa dari Pemerintah Indonesia untuk membiayai mahasiswa dalam rangka melakukan mobilitas internasional berupa studi satu semester di universitas top dunia. “Program ini dikhususkan bagi mahasiswa sarjana untuk bisa kuliah selama satu semester atau empat hingga enam bulan di universitas mitra di luar negeri dengan tujuan untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, komunikasi antar budaya, mengembangkan jaringan internasional dan merasakan budaya Negara lain,” papar Najib.
 
Ditambahkan Najib, program ini meliputi pembayaran uang pendaftaran dan uang kuliah selama satu semester, biaya hidup dan akomodasi, tiket pesawat serta biaya tes PCR, dan karantina jika dibutuhkan. Adapun persyaratan mahasiswa yang bisa mengikuti program ini antara lain adalah mahasiswa yang sudah duduk di semester 4-6, memiliki nilai IELTS 6.0 atau TOEFL iBT 78, dengan nilai IPK minimum 3,0.
 
IISMA tahun 2022 mendatang, dikatakan Najib, tidak semua universitas luar negeri bisa berpartisipasi. Pemerintah Indonesia hanya mengundang lima universitas terbaik di masing-masing negara atau universitas yang masuk dalam daftar peringkat 100 terbaik oleh QS 2022. “Universitas yang boleh berpartisipasi juga harus sudah memiliki pengalaman dalam menerima mahasiswa internasional, khususnya mahasiswa Indonesia,” jelas Najib.
 
Dalam kesempatan tersebut, Amanda Barry mengaku sangat tertarik terhadap program IISMA. “Selama ini, ANU telah banyak menerima mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia. Namun yang berbeda dengan program IISMA ini menurut Amanda adalah karena program ini dikhususkan bagi mahasiswa sarjana,” terang Amanda.
 
“Tentu akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa sarjana jika memiliki pengalaman internasional. Selama ini, mahasiswa internasional yang datang ke ANU lebih banyak mahasiswa pascasarjana baik master maupun doktoral, dengan adanya program ini tentu akan sangat menarik melihat mahasiswa sarjana dari Indonesia hadir dan belajar bersama mahasiswa internasional lainnya di ANU,” ucap Amanda.
 
Sementara Dale Druhan menilai program IISMA sangat penting bagi mahasiswa Indonesia, khususnya mahasiswa program sarjana. Dale yang pernah belajar satu semester di Universitas Gadjah Mada ini mengatakan manfaat yang didapat mahasiswa yang berkesempatan studi di luar negeri sangat besar. “Saya belajar banyak tentang ragam budaya selama berada di Yogyakarta dan ini sangat berguna bagi pengembangan karier saya,” ujar Dale. Dirinya berharap program ini bisa segera terlaksana dan ANU bisa ikut berpartisipasi.
 
Sebagai informasi, IISMA sudah berjalan sejak tahun 2021. Saat itu, terdapat 73 universitas dari 30 negara yang terlibat dalam program ini. Australia tidak bisa berpartisipasi pada tahun lalu meski beberapa universitas di Australia masuk dalam daftar universitas yang diharapkan bisa bergabung dalam IISMA. Namun karena kebijakan penutupan perbatasan oleh pemerintah Australia, maka tahun 2021 tidak ada pengiriman mahasiswa Indonesia ke Australia. Untuk tahun 2022, ada dua universitas Australia yang diundang untuk berpartisipasi dalam IISMA, yaitu Australian National University dan University of Melbourne.*** (Atdikbud Canberra/ Lydia Agustina/ Seno Hartono)




Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 4056 kali