Hampir Dua Tahun Tak Bertemu, Guru-guru Australia Pengajar Bahasa Indonesia Jumpa  22 November 2021  ← Back

Canberra, 22 November 2021 ---  Balai Bahasa Indonesia Canberra (BBI-ACT) mengundang guru-guru Australia yang mengajar Bahasa Indonesia dan peminat Indonesia dalam acara Immersion yang digelar secara luring guna mempertemukan guru-guru pengajar bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Canberra agar bisa saling berdiskusi dan sama-sama mempraktikkan bahasa Indonesia, Sabtu (20/11).

Kegiatan yang berlangsung di Pusat Kebudayaan Indonesia di Canberra ini berisi diskusi, pemutaran video, praktik percakapan bahasa Indonesia dan makan tumpeng bersama. Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Canberra, Mukhamad Najib, berharap acara ini membuat para guru native (asli) Australia ini berkesempatan untuk berbicara Bahasa Indonesia baik dengan sesama guru bahasa maupun dengan penutur asli bahasa Indonesia.

Kegiatan ini berlangsung satu hari penuh dengan 15 guru berpartisipasi dan dibagi dalam kelompok yang lebih kecil agar bisa berkomunikasi lebih intensif. Menurut Sekretaris BBI-ACT, Ida Nurhayati, pertemuan dibuat seakrab mungkin agar guru-guru bisa secara bebas mempraktikkan kemampuan percakapan Bahasa Indonesianya dengan kasual.
 
“Kami ingin semua guru berkesempatan berbicara dalam Bahasa Indonesia, meskipun mungkin ada yang kurang tepat dalam pengucapan atau pemilihan kata, kami tidak akan menyalahkan, tapi kita sama-sama memperbaiki agar lebih sesuai dengan ucapan dari penutur asli Indonesia,” ujar Ida.

Menurut Ida, sejak Pandemi Covid-19, sudah hampir dua tahun para guru Bahasa Indonesia di Canberra tidak bertemu secara langsung, sehingga tidak ada kesempatan cukup untuk bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia. “Kami merencanakan kegiatan ini bisa dilaksanakan pada bulan September 2021 lalu, namun karena adanya lockdown di Canberra maka acara diundur sampai hari ini,” jelas Ida.

Atdikbud Najib juga menyampaikan apresiasinya kepada guru-guru yang terus semangat dalam mengajarkan dan mempromosikan bahasa Indonesia di sekolahnya masing-masing. Najib berjanji akan terus mendukung guru-guru untuk selalu meningkatkan kemampuannya dalam mengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing.

“Pemerintah Indonesia sangat mendukung pengembangan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah maupun universitas di Australia. Kami akan membantu penyediaan buku teks standar dan buku-buku tambahan maupun video pengayaan untuk pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Selain itu kami juga akan mengadakan bimbingan teknis bagi guru-guru BIPA pada waktu yang akan datang,” ujar Najib.

Najib berharap, Bahasa Indonesia bisa diterima di sekolah-sekolah di Australia dengan baik, dan akan selalu mendukung guru dalam meningkatkan kualitas dan daya tarik pelajaran bahasa Indonesia di Australia. Salah satu yang akan dilakukan untuk meningkatkan daya tarik pelajaran bahasa Indonesia di kalangan pelajar Australia adalah dengan melakukan promosi melalui budaya dan olah raga khas Indonesia.

“Kami berencana akan datang ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan olah raga khas Indonesia, seperti pencak silat. Jika pencak silat bisa menjadi kegiatan ekstra kurikuler di sekolah, harapannya hal itu bisa menjadi pintu masuk yang menarik bagi siswa untuk belajar bahasa Indonesia. Selain olah raga, tentunya juga akan dilakukan promosi bahasa melalui seni dan budaya termasuk pemutaran film Indonesia bertema remaja,” jelas Najib.

Najib, dalam kesempatan ini, juga menjelaskan programnya ke depan untuk mengenalkan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke baik dalam bentuk tarian, pakaian adat, maupun makanan khas masing-masing daerah. “Harapannya, dengan begini, guru-guru semakin mengenal kekayaan budaya nusantara dan dapat menjadikannya sebagai bahan pelajaran yang menarik bagi siswa-siswa mereka,” tutur Najib.

Guru-guru di Canberra yang mengikuti acara ini pun menyambut gembira dengan adanya kegiatan Immersion. Bagi mereka, Immersion merupakan sarana yang baik untuk bisa saling berbagi pengalaman tentang pengajaran bahasa Indonesia di sekolah masing-masing. Di sini, para guru belajar percakapan Bahasa Indonesia, sehingga bisa lebih lancar lagi dalam berbahasa Indonesia.

Rebecca Battaglini, guru bahasa di Melrose High School mengatakan, dirinya mengajar lima kelas Bahasa Indonesia di sekolahnya. Ketertarikan Rebecca belajar bahasa Indonesia adalah karena dulu saat sekolah ia mendapat kesempatan berkunjung ke Indonesia. Alumni Australian National University ini mengakui, sudah hampir 18 tahun mengajar Bahasa Indonesia di sekolah, tapi belum mendapat kesempatan untuk membawa siswa-siswanya ke Indonesia.

“Padahal mengajak siswa berkunjung ke Indonesia adalah penting untuk memberikan pengalaman yang menarik sehingga semakin semangat belajar bahasa Indonesia,” ucap Rebecca.

Damian Bolton, guru di Chapman Primary School, mengatakan ada 600 siswa di sekolahnay yang belajar Bahasa Indonesia. Namun, kendalanya adalah soal waktu pelajaran yang sangat singkat. “Pelajaran Bahasa Indonesia hanya seminggu sekali dan waktunya hanya satu jam, sehingga perkembangannya terasa sangat lambat. Saya sudah pernah keliling Indonesia dan sangat tertarik dengan Indonesia. Semoga di masa depan kami bisa mengajak siswa-siswa untuk berkunjung ke Indonesia,” harap Damian.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

#MerdekaBelajar
#KampusMerdeka
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 721/sipres/A6/XI/2021

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 156 kali