Pengawasan Protokol Kesehatan dan Izin Orang Tua Kunci Keberhasilan PTM Terbatas di Surabaya  28 November 2021  ← Back



Surabaya, 26 November 2021—Hingga saat ini, Surabaya menjadi salah satu kota di Indonesia yang berhasil menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas dengan aman dan nyaman. Kunci keberhasilan PTM Terbatas tersebut tidak terlepas dari upaya pemerintah Kota (pemkot) Surabaya dalam mengawasi secara ketat penerapan protokol kesehatan di sekolah.

Selain itu, dukungan orang tua atau wali murid berupa pemberian izin bagi anak untuk kembali ke sekolah serta pelibatan dalam pengawasan turut menjadi kunci keberhasilan terselenggaranya PTM Terbatas di Kota Surabaya. Terbukti hingga saat ini belum ada laporan terjadinya klaster penyebaran Covid-19 di sekolah-sekolah.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Surabaya Supomo pada saat Kunjungan Kerja Spesifik Bidang Pendidikan Komisi X DPR RI di Kantor Wali Kota Surabaya, Jumat siang (26/11/2021).

Di samping penerapan protokol kesehatan yang ketat di sekolah, salah satu bentuk pengawasan dan pengendalian terhadap potensi penyebaran Covid-19 yang dilakukan oleh pemkot Surabaya adalah dengan melakukan uji usap berkala di sekolah-sekolah. Uji usap berkala dilakukan satu bulan sekali.

Supomo mengungkapkan bahwa pemkot Surabaya sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan pelaksanaan PTM Terbatas. Sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri dan Instruksi Menteri Dalam Negeri, sekolah yang berada di daerah wilayah level 3 dapat menyelenggarakan PTM Terbatas. Namun, sebelum hal tersebut benar-benar dilakukan, pemkot melakukan kajian dengan meminta pertimbangan para pakar.

“Setiap keputusan yang diambil pemerintah kota, kita senantiasa berkoordinasi dengan para pakar epidemiologi, sehingga keputusan memiliki dasar ilmiah, agar kemudian kita dapat mengendalikan Covid,” tutur Supomo.

Tingkat vaksinasi penduduk Kota Surabaya yang telah mencapai 113 persen turut menjadi faktor pendorong keberhasilan tersebut. Hingga kini, jumlah guru dan tenaga kependidikan yang telah divaksinasi sudah mencapai 96 persen, sedangkan jumlah siswa yang telah divaksinasi hampir mencapai 90 persen dari target yang ditetapkan.

Sejak awal penyelenggaraan PTM Terbatas, pemerintah Kota Surabaya menetapkan kapasitas kelas sebanyak 25 persen dengan waktu belajar di sekolah selama dua jam. Namun, karena kini Surabaya telah berada di wilayah level 1, maka pemerintah kota mempertimbangkan adanya penambahan kapasitas kelas dan jam belajar.

Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Sukarno mengapresiasi ketatnya asesmen bagi pelaksanaan PTM Terbatas. “Tahap-tahap itu pun juga memang sebenarnya 50 persen, tetapi untuk kebaikan, dari pihak sekolah maupun orang tua anak didik menyepakati dilakukan 25 persen. Asesmennya juga sangat ketat sekali. Jadi dengan tahap-tahap itu, insyaallah PTM ini dapat berlangsung dengan baik,” tutur Puti.

Menurut Direktur Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Sri Wahyuningsih yang juga hadir dalam pertemuan tersebut, saat ini usulan penambahan jam belajar sudah masuk dalam pembahasan pemerintah pusat. “(Rencananya) wilayah dengan level 3 hari sekolah bisa full (penuh) sampai 4 jam. Level 2 bisa full hari sekolah, 4-6 jam pembelajaran,” ujar Sri.

Sri Wahyuningsih turut mengapresiasi segala upaya yang dilakukan pemerintah Kota Surabaya dalam penyelenggaraan PTM Terbatas. Upaya pengawasan dengan mengadakan uji usap berkala di sekolah-sekolah menurutnya dapat menjadi contoh praktik baik yang dapat diterapkan di kabupaten dan kota lainnya di Indonesia. (Prani Pramudita)