Provinsi Banten Siap Implementasikan Kurikulum Prototipe  15 Januari 2022  ← Back

Lebak, 14 Januari 2022 --- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) saat ini tengah menyosialisasikan kurikulum prototipe yang merupakan upaya pemulihan pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Hadirnya kurikulum ini dilatarbelakangi oleh hasil evaluasi terhadap kurikulum darurat yang digunakan selama pandemi menunjukkan berkurangnya learning loss.

Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikbudristek, Zulfikri Anas mengatakan, kurikulum darurat efektif memitigasi learning loss karena membantu guru untuk fokus pada materi esensial. Dampaknya, guru dapat menerapkan pembelajaran yang lebih mendalam untuk mengembangkan karakter dan kompetensi dasar. Kurikulum darurat ini juga memberi fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level). “Ini yang menjadi latar belakang pengembangan kurikulum prototipe,” ujar Zulfikri saat sosialisasi kurikulum dalam rangka perbaikan pembelajaran, di Lebak, Banten, Jumat (14/01).

Zulfikri menyampaikan, kurikulum prototipe telah diterapkan di sekolah penggerak pada tahun 2021. Dan pada tahun ini, lanjutnya, kurikulum prototipe menjadi salah satu kurikulum yang dapat dipilih oleh sekolah yang berminat, di samping kurikulum 2013 dan kurikulum darurat. “Keputusan terpenting ada di bapak ibu semua, jadi saat ini tidak ada perintah wajib, tapi pilihan. Ada empat yang kurikulum yang bisa dipilih, salah satunya adalah kurikulum prototipe,” katanya di hadapan lebih dari seratus peserta sosialisasi yang merupakan perwakilan dari asosiasi profesi guru, perguruan tinggi, guru, kepala sekolah, pengawas, hingga lembaga masyarakat yang ada di Provinsi Banten.

Anggota Komisi X DPR RI, Ali Zamroni, yang turut hadir dalam sosialisasi ini menuturkan, kurikulum prototipe memangkas waktu pembelajaran yang terkait teori. Dalam kurikulum ini, pembelajaran akan lebih banyak dilakukan berbasis proyek. “Kurikulum prototipe ini memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan potensi siswa. Karena berbasis proyek, siswa bisa mengembangkan potensi dan bakat yang dimiliki secara maksimal,” katanya.

Ali Zamroni menambahkan, Komisi X DPR RI sepakat dengan rencana Kemendikbudristek untuk melakukan sosialisasi kurikulum prototipe secara masif. Ia mengusulkan, pemangku kepentingan di bawah dinas pendidikan baik provinsi, kabupaten, maupun kota harus menjadi ujung tombak dalam sosialisasi. “Kebijakan yang bagus, jika diketahui masyarakat secara luas akan lebih mudah untuk diterapkan. Sebuah kebijakan yang tidak diketahui masyarakat, meskipun bagus, akan banyak terdapat penolakan,” terangnya.

Menanggapi penjelasan Zulfikri Anas dan Ali Zamroni, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Tabrani mengatakan, melalui sosialisasi ini kegundahan pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan di Provinsi Banten sedikit terjawab. Meskipun di Banten baru dua kabupaten/kota yang memiliki sekolah penggerak, yaitu Kota Tangerang dan Kabupaten Pandeglang, Tabrani meyakini kurikulum prototipe dapat diterima di Banten. “Hari ini sekurang-kurangnya kita memahami bahwa kurikulum ini dirancang untuk menyederhanakan pembelajaran, yang harapannya dapat meringkankan beban guru sekaligus mengembangkan potensi anak,” ujarnya.

Pada tahun 2022, setelah Kota Tangerang dan Kabupaten Pandeglang, ada dua daerah lagi yang akan menjadi target sekolah penggerak di Banten, yaitu Cilegon dan Lebak. Tabrani menjelaskan, kurikulum prototipe memang dimulai dari sekolah-sekolah penggerak. Dan bagi sekolah yang belum menjadi sekolah penggerak, kata dia, itu menjadi opsi, artinya sekolah boleh melaksanakan atau tidak.

Tabrani juga menyebut, dalam berbagai kesempatan dirinya terus mengajak kepada sekolah-sekolah penggerak di Banten untuk mengimbaskan kurikulum prototipe kepada sekolah-sekolah lain di sekitarnya. Namun demikian, Tabrani mengatakan, yang namanya pengimbasan sifatnya hanya mengajak kepada sekolah-sekolah yang akan diimbas, tidak bisa dipaksakan karena menyangkut soal kesiapan.

Kepala Sekolah SD Negeri 2 Bintang Resmi, Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, Nurbeti mengatakan, sekolah yang dipimpinnya menyambut baik hadirnya kurikulum prototipe. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh tantangan yang besar untuk menjalankan kurikulum 2013 secara utuh di masa pandemi. “Di daerah kami tidak semua anak memiliki fasilitas teknologi yang memadai, jaringan juga susah. Jadi memang sangat kesulitan,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Sekolah SD Negeri 1 Luhur Jaya, Cipanas, Lebak, Banten, Luna Starlinsky, yang menyebut hadirnya kurikulum prototipe ini memberi harapan baru agar anak-anak didiknya bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Ia mengaku, selama pandemi, selain PTM terbatas, guru-guru di sekolah harus menyambangi murid ke rumah-rumah untuk menyampaikan materi pelajaran. Akibatnya, sulit bagi para guru untuk menuntaskan kewajiban kurikulum. “Anak-anak yang rumahnya berdekatan berkumpul di satu rumah, nanti gurunya ke sana. Itu hampir setiap hari,” ujarnya.

Kesulitan yang sama tidak hanya dirasakan oleh para guru dan kepala sekolah tapi juga pengawas. Ketua kelompok kerja pengawas sekolah di kelurahan Cipanas, Kabupaten Lebak, Yulyadi mengamini perihal yang diungkapkan oleh para kepala sekolah. Ia mengaku, dengan kurangnya tenaga pengawas, sulit baginya untuk memastikan setiap guru menuntaskan kurikulum. “Sekolah di Lebak ini ada 700an, sementara pengawas hanya ada 35 orang. Saya sendiri harus mengawasi 27 sekolah, itu tantangan yang luar biasa,” ujarnya.

Kemendikbudristek dalam merancang kurikulum prototipe melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya. Kurikulum ini mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar. Di sisi lain, kurikulum prototipe memberi fleksibilitas dan ruang besar bagi kearifan lokal, sehingga setiap satuan pendidikan dapat menunjukkan karakter dan keunikannya masing-masing.