KBRI London Dorong Kerja Sama Universitas Inggris dan Indonesia untuk Atasi Bencana di Indonesia  29 Maret 2022  ← Back



London, 29 Maret 2022 --- Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Khairul Munadi, mengungkapkan KBRI London terus berkomitmen mendorong upaya kolaborasi riset antara Kerajaan Inggris dan Indonesia, terutama dalam menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat. “Kita harap, ke depan, akan semakin banyak riset-riset di universitas terkemuka di Inggris yang menyelesaikan persoalan-persoalan di Indonesia dan melibatkan mitra lokal. Dengan begitu, akan terjadi transfer pengetahuan yang saling menguntungkan antara kedua negara,” tutur Atdikbud Khairul saat dihubungi,Senin (28/3).
 
Sebelumnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London, melalui Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) dan Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya (Pensosbud) mendukung penyelenggaraan lokakarya praktik atau hands-on workshop bertajuk Resilient Emergency Preparedness for Natural Disaster Response Through Operational Research (RESPOND-OR), Kamis (24/3) lalu, sebagai kelanjutan dari United Kingdom – Indonesia Sharing Session Webinar bertajuk serupa, awal bulan ini (1/3).
 
Penelitian RESPOND-OR telah menghasilkan sistem pengambilan keputusan atau Decision Support System (DSS) yang memiliki dua modul, yaitu assisted evacuation dan personnel routing and scheduling. Sebagai informasi, DSS merupakan program terkomputerisasi yang digunakan untuk membantu manusia dalam menentukan rencana aksi dan keputusan dalam suatu organisasi. DSS menyaring data dalam jumlah yang besar dan mengompilasi informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan.
 
“DSS ini memberikan kemampuan kepada para pengambil keputusan untuk mencermati trade-off antara berbagai tujuan manajemen tanggap bencana, seperti pengurangan risiko, peningkatan efisiensi dan peningkatan keadilan dalam penanganan bencana,” ucap Prof. Juliana Sutanto, salah seorang peneliti.
 
RESPOND-OR merupakan riset kolaboratif yang diprakarsai dan dipimpin seorang profesor di Lancaster University, yaitu Konstantinos Zografos sebagai principal investigator bersama co-investigator Juliana Sutanto yang merupakan profesor sekaligus diaspora (orang perantauan) Indonesia di kampus tersebut. RESPOND-OR bekerja sama dengan sejumlah perguruan di Indonesia dan Sudan, antara lain: Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan University of Khartoum. RESPOND-OR didanai suatu konsili riset di Kerajaan Inggris, yaitu Engineering and Physical Sciences Research Council (EPSRC), melalui Global Challenges Research Fund (GCRF).
 
Konstantinos menyatakan, “Di RESPOND-OR, kami mengembangkan dan menggunakan Operational Research Tools untuk memperkuat dasar pengambilan keputusan dalam penanganan bencana,” ucap Konstantinos. Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak antara 4 lempeng tektonik, Benua Asia, Benua Australia, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik.
 
Diuraikan Atdikbud Khairul, penelitian ini didasari latar belakang yang sama antara kedua negara yang turut melaksanakan penelitian ini, yaitu Indonesia dan Sudan. “Indonesia, tentunya memiliki banyak risiko bencana akibat letak geografisnya, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga gunung meletus. Hal serupa juga dialami oleh Sudan, di mana risiko bencana banjir sudah menjadi suatu kerisauan sejak lama,” jelas Khairul.
 
Versi terbaru DSS yang didemonstrasikan di hadapan para pemangku kepentingan di Indonesia, yang terdiri dari: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Humanitarian Forum Indonesia (HFI) dan RedR Indonesia. Diungkapkan Atdikbud Khairul, RESPOND-OR mendapatkan tanggapan positif mengenai potensi dari DSS untuk membantu proses pengambilan keputusan.
 
Disampaikan Euis Sunarti selaku profesor sekaligus perwakilan Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan Risiko Bencana (FPT-PRB), bahwa penelitian ini akan sangat bermanfaat karena terjadinya bencana berdampak pada kehidupan setiap korbannya. Hal ini ia simpulkan dari tiga poin penting yang disampaikan pada presentasinya, yaitu: disaster affects poverty (bencana mempengaruhi kemiskinan); disaster affects the food security (bencana mempengaruhi ketahanan pangan); and disaster affects the welfare of the family (bencana mempengaruhi kesejahteraan keluarga).
 
“Harus dipahami juga bahwa perlu ada kolaborasi antara tiga aktor penting, yaitu penduduk (warga), pihak pemerintah, dan peneliti yang akan membuat rancangan serta rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan dan relevansi,” tutur Euis.
 
Juliana menekankan bahwa tujuan utama dari penelitian RESPOND-OR ini ialah untuk merancang sebuah sistem yang secara efektif dan efisien dapat lebih meningkatkan kesiapan badan penanggulangan bencana dalam menghadapi situasi bencana.*** (Atdikbud London/ Lydia Agustina/ Seno Hartono)