KBRI Tokyo Mulai Kerja Sama Pasca Panen Perikanan dengan Kampus TUMSAT Jepang  17 Maret 2022  ← Back



Tokyo, 16 Maret 2022 --- Saat memenuhi undangan Manabu Watanabe dari Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT), Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Atdikbud RI) di Tokyo, Yusli Wardiatno menyampaikan perlunya mengembangkan kerja sama pascapanen perikanan. Hal ini dilatarbelakangi kondisi dua per tiga wilayah Indonesia yang terdiri dari perairan dan 17 ribu pulaunya menjadikan potensi sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia sangatlah besar untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat.
 
Namun demikian, penanganan pascapanen sumber daya perikanan masih banyak menyimpan tantangan bagi para nelayan, misalnya strategi untuk mempertahankan kualitas hasil tangkapan agar tetap dalam keadaan segar ketika sampai di tangan konsumen. Oleh karena itu, kesempatan ini dimanfaatkan untuk menginisiasi kerja sama riset dan kegiatan akademik dalam aspek keilmuan perikanan yang disebut sebagai Food Refrigeration Science (FRS).
 
“Tantangan-tantangan tersebut perlu diatasi dengan edukasi dan pelatihan kepada para nelayan dan pekerja sektor kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. Oleh karenanya, kolaborasi dengan berbagai pihak yang telah memiliki reputasi baik di bidang pengembangan riset maupun bisnis kelautan dan perikanan menjadi sangat vital,” disampaikan Atdikbud Yusli, Jumat (11/3).
 
Menurut Watanabe, di dunia hanya ada dua lokasi Food Refrigeration Laboratory, yakni di TUMSAT dan The Grimsby Institute, Inggris.
 
Merespons hal tersebut, Atdikbud Yusli mengakui bahwa bidang ilmu FRS dalam penanganan pascapanen sumber daya perikanan sangat penting dikuasai oleh Indonesia. Apalagi, karakteristik dunia perikanan di Indonesia lebih beragam dibandingkan Jepang. “Pengenalan dan pengembangan ilmu ini sangat dibutuhkan Indonesia karena dapat membantu nelayan atau pembudidayaan ikan dalam mempertahankan kesegaran sumber daya perikanan sehingga nilai jualnya menjadi tetap tinggi,” terang Yusli.
 
Atdikbud Yusli juga menguraikan peran KBRI Tokyo dalam membangun kerja sama antar universitas di Indonesia dan Jepang. Dirinya memaparkan kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) melalui program Indonesian International Student Mobility Award (IISMA) dan Indonesian International Vocational Student Mobility Award (IIVOSMA).
 
Pada kesempatan itu, Watanabe dengan antusias mencatat poin-poin penting dari kedua program tersebut dan menyatakan ketertarikannya untuk berkolaborasi dengan Indonesia guna membangun kemitraan pendidikan yang lebih mendalam.
 
Kunjungan kerja diakhiri dengan melihat langsung dan mendapat penjelasan berbagai fasilitas laboratorium serta menyaksikan koleksi rangka paus pada museum di dalam kampus. Atdikbud Yusli juga meninjau dan mendapat penjelasan tentang sejarah kapal riset pertama yang dimiliki TUMSAT bernama Unyo Maru. Kapal tersebut merupakan kapal riset terbaik di Jepang pada masa itu.*** (Atdikbud Tokyo/ Lydia Agustina/ Denty A./ Seno Hartono).


Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 910 kali