Tradisi Jamuan Ladosan Dhahar Kembul Bujana Sambut Delegasi Kelompok Kerja Pendidikan G20  17 Maret 2022  ← Back



Yogyakarta, Kemendikbudristek --- Ladosan Dhahar Kembul Bujana adalah sebuah tradisi makan mirip dengan tatanan fine dining yang mengadaptasi tradisi makan raja-raja Jawa di masa lampau.  Ladosan Dhahar Kembul Bujana berarti jamuan makan bersama dengan pelayanan khusus. Di hari pertama pertemuan, para delegasi G20 EdWG menikmati jamuan Ladosan Dhahar Kembul Bujana di Bale Kambang, yang merupakan salah satu tempat di rumah peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang kini menjadi sarana sosial dan museum di Yogyakarta.

Dengan mengadaptasi tradisi Ladosan Dhahar Kembul Bujana, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjamu para delegasi EdWG G20 dalam acara Welcoming Dinner pada Rabu malam, (16/3/2022). Tradisi makan ini melibatkan beberapa orang untuk memberikan layanan khusus pada anggota kerajaan. Para pramusajinya mengenakan pakaian adat yang identik dengan abdi dalem Keraton. Para wanita mengenakan kemben dan kain jarik, sedangkan laki-laki mengenakan kemeja tradisional (peranakan), kain jarik, dan blangkon.  Makanan dibawa oleh pramusaji dalam wadah kayu yang dipikul di pundak mereka. Wadah kayu yang dikenal sebagai Jodhang ini dibawa di belakang seorang punggawa yang berjalan di depan sambil memegang payung kuning kerajaan (Songsong).

Pilihan makanan dalam set menu Ladosan Dhahar Kembul Bujana dimulai dari makanan pembuka (appetizer) hingga makanan penutup (dessert) yang menjadi menu favorit para Sultan, mulai dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII hingga IX. Sebanyak 11 menu dihidangkan untuk para delegasi G20, yaitu Bir Jawa, Roti Jok Semur Ayam, Ledre Pisang, Salad Mentimun, Nasi Pandan Wangi, Dendeng Age, Sapitan Lidah, Zwaart Zuur (Bebek Asam Hitam), Lombok Kethok Sandung Lamur, Setup Pakis Taji, dan Rondo Topo dengan Saus Karamel.

Prosesi Ladosan Dhahar Kembul Bujana untuk delegasi EdWG G20 diawali dengan parade oleh tujuh petugas perempuan dan laki-laki yang berjalan kaki dari dapur utama menuju Gadri atau Bale Kambang. Penanggung jawab pembawa Jodhang dipimpin oleh seorang Bekel atau Cucuk Lampah, yang kemudian disusul oleh pembawa tembang di sebelah kiri, bersama empat petugas yang membawa Jodhang, dan terakhir pramusaji perempuan yang bertugas menyajikan hidangan di meja tamu. Sebelumnya, para delegasi telah menyaksikan Tarian Srimpi Pandhelori yang diiringi musik Gendhing Pandhelori dari gamelan, sebuah tarian tradisional yang biasanya hanya ditampilkan saat acara khusus di Keraton Yogyakarta.

Jamuan makan malam untuk delegasi EdWG G20 dihadiri oleh Wakil Gubernur DI Yogyakarta (DIY), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X, yang menyampaikan sambutan dari Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam sambutannya, Wagub DIY mengatakan bahwa Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai Kota Pelajar, melainkan juga kerap disebut sebagai “The Heart of Java”. Ia menuturkan, menyatunya pendidikan dengan budaya, pada akhirnya telah menghasilkan karakter masyarakat Yogyakarta yang memegang teguh nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika kita melihat kembali sejarahnya, Daerah Istimewa Yogyakarta memang dibangun di atas nilai-nilai kebinekaan dan toleransi. Candi Prambanan yang akan Anda kunjungi besok, telah menjadi saksi betapa nilai toleransi yang dijunjung tinggi antarpemeluk agama pada peradaban masa lalu. Misalnya, Candi Prambanan merupakan candi Hindu, sedangkan Candi Sewu yang letaknya berdekatan merupakan tempat peribadatan umat Buddha,” ujar KGPAA Paku Alam X.

Beranjak ke zaman yang lebih kontemporer, lanjutnya, kawasan Kota Baru di Kota Yogyakarta menjadi simpul toleransi antara umat Islam dan Katolik, di mana Masjid Syuhada terletak bersebelahan dengan Gereja Katolik Santo Antonius Padua. KGPAA Paku Alam X menuturkan, kedua entitas agama tersebut dapat hidup rukun, mewarnai, dan memantapkan budaya toleransi Yogyakarta saat ini. “Kita tentu harus sepakat sejak awal bahwa pendidikan harus dirancang untuk menghargai perbedaan karena pada akhirnya toleransilah yang akan mengangkat derajat kemanusiaan kita ke tingkat yang lebih tinggi. Visi tersebut sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Hellen Keller, ‘the highest result of education is tolerance’,” tuturnya.

Ketua Kelompok Kerja Pendidikan G20 (Chair of Education Working Group), Iwan Syahril mengatakan, melalui tradisi Ladosan Dhahar Kembul Bujana,  ia berharap para delegasi bisa mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan di Yogyakarta. “Malam ini, kami ingin memperkenalkan Anda mengenai budaya dan tradisi berusia ratusan tahun yang diwujudkan dalam bentuk keramahan, tarian, dan masakan,” tuturnya saat memberikan sambutan sebelum jamuan makan malam. Iwan juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah mendukung pelaksanaan Pertemuan Pertama EdWG G20. (Desliana Maulipaksi)
 
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 1031 kali