Peran Riset Fenomena Sosial dalam Merespon Isu Publik di Indonesia  22 Juni 2022  ← Back



Washington D.C, Kemendikbudristek – Dampak pandemi Covid-19 secara global menimbulkan beragam fenomena, salah satunya fenomena sosial yang memantik ketegangan/emosi di tengah masyarakat khususnya di Indonesia.

Menyikapi isu fenomena tersebut, Perwakilan Republik Indonesia di Washington D.C, Amerika Serikat melalui Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) berkolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menyelenggarakan webinar Bincang Karya (Bianka) 39 mendiskusikan peran aktif calon Doktor Indonesia di Amerika Serikat dalam merespon isu sosial di Indonesia melalui riset fenomena sosial (21/6).

Mengawali sesi webinar, Duta Besar (Dubes) RI untuk Amerika Serikat, Rosan P. Roeslani mengatakan bahwa para ahli Ilmu Sosial termasuk Psikolog berperan aktif dalam memberikan sumbangsih untuk mengatasi masalah sosial yang dihadapi Indonesia saat ini, terutama selama masa sulit seperti sekarang akibat pandemi yang melanda secara global.

“Pandemi juga memiliki dampak psikologis yang sangat besar, salah satunya adalah kecemasan. Di sinilah Ilmu Psikologi, sebagai salah satu cabang Ilmu Sosial, dibutuhkan. Psikolog membantu masyarakat mengatasi kecemasan yang muncul selama pandemi Covid-19,” ungkap Dubes Rosan serta menambahkan jika para ahli Ilmu Sosial sangat diperlukan, salah satunya untuk membantu pemerintah membuat kebijakan yang tepat, yang dapat menjangkau semua lapisan sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.

Atase Pendidikan dan Kebudayan (Atdikbud) RI di Washington, D.C, Popy Rufaidah menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung seraya menegaskan jika tujuan utama webinar ini adalah untuk meningkatkan jumlah mahasiswa dan profesional muda Indonesia melanjutkan studi ke Amerika Serikat melalui beasiswa pemerintah khususnya pada bidang Ilmu Sosial.
“Kami juga berharap setelah webinar berlangsung, kolaborasi dapat dijalin dengan Loyola University Chicago, University of Miami, dan Florida State University,” tutur Atdikbud Popy.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Beasiswa, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Keuangan RI, Dwi Larso, mengatakan bahwa pendekatan multi disiplin dalam Ilmu Sosial berperan memahami masalah-masalah multidimensi. “Ilmu Sosial dapat membantu memecahkan masalah-masalah nyata dan praktis yang dihadapi sehari-hari,” urai Dwi.
 
Mengawali sesi diskusi, 3 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika Serikat berkesempatan memaparkan riset terbaru bidang Ilmu Sosial.

Dimulai oleh kandidat Ph.D. bidang Social Psychology, dari Loyola University Chicago, Whinda Yustisia, menampilkan risetnya dengan topik kognisi sosial dan emosi dalam konteks politik. Dalam paparannya, Whinda membicarakan bagaimana emosi marah dan takut bisa meningkatkan dukungan terhadap ekstrimisme kekerasan berbasis agama terutama ketika orang merasa tahu tentang justifikasi jihad kekerasan.

“Kata merasa di sini untuk menekankan bahwa ini hanya persepsi subjektif saja, bukan pengetahuan faktual,” ungkap Whinda.

Berikutnya, calon doktor bidang Community Well Being di University of Miami, Fairuziana Humam, memaparkan risetnya yang berfokus pada kesehatan mental kelompok agama. “Saya meneliti bagaimana kesehatan mental dan penggunaan praktik-praktik yang familiar bagi umat,” ujarnya.

Selanjutnya, kandidat Ph.D. bidang Communication Science dari Florida State University, Muhamad Prabu Wibowo memaparkan hasil risetnya yang berkaitan dengan repositori data penelitian terbuka ilmu kesehatan. “Manfaat riset ini adalah kolaborasi data penelitian kesehatan, meningkatkan layanan kesehatan, kualitas diagnosa terhadap penyakit, deteksi dini suatu penyakit,” terang Prabu.

Turut hadir dalam webinar, akademisi perguruan tinggi di Amerika Serikat untuk berbagi praktik baik, Graduate Program Director for the Applied Social Psychology Program, Loyola University Chicago, R. Scott Tindale yang membagikan beragam bidang riset koleganya di Applied Social Psychology Program yang meliputi intergroup relations dan prejudice, emotion dan cognition, political psychology, self- dan self-esteem.

“Riset terbaru saya difokuskan pada ethical decision-making dan bagaimana mencoba membuat kelompok untuk mengurangi membuat pilihan yang tidak etis. Saya juga telah melakukan beberapa riset tentang advice taking,” tekan Scott.

Sedangkan, Acting Director of Community Well-Being Doctoral Program, University of Miami, Scotney D. Evans mengungkapkan program yang ditawarkan oleh institusinya seperti Master of Community and Social Change serta program doktoral Community Well-Being termasuk kurikulum dan waktu studi.

“Kami banyak memfokuskan pelatihan dan program kami pada penelitian tindakan kelas, metode partisipatif, penelitian tindakan partisipasif berbasis masyarakat, evaluasi dan metodologi partisipasif dan lebih banyak pendekatan serupa,” tutur Scotney.
 
Selanjutnya, Dean of the College of Communication and Information, Florida State University, Stephen McDowell menunjukkan dalam paparannya mengenai informasi komprehensif tentang program pascasarjana di College of Communication & Information serta syarat-syarat yang harus dipenuhi calon mahasiswa. Stephen juga membagikan beberapa profil sukses alumni dari School of Communication, School of Information, serta School of Communication Science & Disorders.

“Kami memiliki serangkaian program yang sangat bagus di Center for Global Engagement untuk menyambut dan mengintegrasikan siswa internasional serta banyak organisasi siswa yang memungkinkan siswa dari kelompok yang berbeda untuk terhubung dengan orang lain dari negara mereka,” jelas Stephen.

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Jamal Wiwoho dalam keterangan tertulisnya menyatakan dukungannya terhadap gelaran rutin ini.

“Forum yang berlangsung hari ini sangat positif bagi perkembangan dunia Ilmu Sosial kita dan harapannya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk membuka pintu kerja sama baik individu maupun institusi di Indonesia dengan 3 universitas di Amerika Serikat yang membagikan praktik baiknya,” pungkas Jamal.

Rekaman siaran langsung webinar Bincang Karya (BIANKA) Seri-39 Bidang Ilmu Sosial yang dimoderatori oleh Dosen jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Rizanna Rosemary dapat diakses di laman resmi Facebook Atdikbud USA dengan tautan https://bit.ly/fb-watch-bianka39.(Atdikbud Washington D.C./Andrew Fangidae)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 1092 kali