Platform Merdeka Mengajar Mudahkan Komunitas Pendidik Implementasikan Kurikulum Merdeka  14 Juni 2022  ← Back



Jakarta, Kemendikbudrisek — Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi kembali menyelenggarakan seri webinar ketujuh Implementasi Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar, Jumat (10/6). Harapannya kegiatan ini akan memudahkan para pendidik dan komunitasnya untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. 
 
Mengangkat tema “Komunitas Belajar yang Mendukung Implementasi Kurikulum Merdeka”, acara ini merupakan upaya untuk memberikan penguatan serta pemahaman tentang penerapan Kurikulum Merdeka dan pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar sesuai dengan kebutuhan jenjang masing-masing sekolah. 
 
Direktur Guru Pendidikan Dasar, Rachmadi Widdiharto mengatakan bahwa setelah Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar diluncurkan dalam Merdeka Belajar Episode 15 pada bulan April lalu, Kemendikbudristek mengupayakan untuk memfasilitasi satuan pendidikan yang ingin menerapkan, mencoba, mempraktekkan, dan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara mandiri.
 
“Kita buka pendaftaran sambil kita lihat kesiapan mereka. Ada tiga pilihan di sana dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, yaitu Mandiri Belajar, Mandiri Berubah, dan Mandiri Berbagi. Hingga tanggal 30 April lalu telah terdaftar 143.265 satuan pendidikan,” terang Rachmadi pekan lalu.
 
Direktur Rachmadi mengatakan bahwa keinginan, harapan, dan komitmen para guru-guru di satuan pendidikan yang mendaftar dan ingin mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara mandiri begitu tinggi. Menjawab antusiasme tersebut, Kemendikbudristek memfasilitasinya dengan Platform Merdeka Mengajar untuk membantu dan memandu satuan pendidikan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.
 
“Harapannya kita ingin platform ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Pendekatan Kurikulum Merdeka memang berbeda pendekatannya dengan kurikulum sebelumnya. Kurikulum tahun 2013 dengan bertingkat (cascading) yang rigid, kali ini lebih sederhana dengan langsung belajar di Platform Merdeka Mengajar. Pendekatannya lebih berbasis teknologi tinggi (hitech),” kata Rachmadi.
 
Yenni Puspandari dari Komunitas Belajar Sinau Bereng yang mengajar sebagai guru di SMPN Negeri 1 Prambanan, menceritakan pengalaman dalam beraktivitas di komunitas belajar dalam mendukung Implementasi Kurikulum Merdeka. Ia mengungkapkan bahwa komunitas mereka merupakan sebuah ruang untuk mengobarkan semangat dalam melakukan perubahan. 
 
Yenni mengungkapkan bahwa Kurikulum Merdeka merupakan sesuatu yang baru sehingga ketika awal sekolah mereka ingin mengimplementasikan muncul beberapa seperti permasalahan terkait dengan pelaksanaan, cara mengkomunikasikan, dan cara menyusun kurikulum tersebut.
 
“Bersama rekan-rekan di sekolah, kami berupaya menyelesaikan persoalan ini dengan waktu yang sangat terbatas. Karena, hampir semua guru mempunyai beban mengajar yang berlebih sehingga kami hanya mempunyai waktu di sela-sela jam mengajar,” terang Yenni.
 
Ia mengatakan memang sudah ada diklat-diklat mengenai implementasi Kurikulum Merdeka. Namun, masih ada masalah dalam implementasi kurikulum tersebut di lapangan sehingga ia mendirikan komunitas belajar dan sering kali mendapat dukungan dari kepala sekolah. 
 
“Dalam komunitas, kami ada beberapa penggerak, termasuk kepala sekolah, dan beberapa rekan hebat dalam menangani permasalahan terkait implementasi Kurikulum Merdeka. Komunitas kami beragam, ada satu guru yang mengajar di tiga sekolah juga, tapi kami mencari kesepakatan waktu yang tepat untuk bertemu,” terang Yenni.
 
Sementara itu Zulfikar Hermawan, Tenaga Ahli Teknologi Kemendikbudristek, mengatakan Platform Merdeka memang difungsikan sebagai platform edukasi yang di dalamnya terdapat tiga fungsi utama, yaitu membantu guru untuk mengajar, belajar, dan berkarya. Ia mengatakan bahwa platform ini bertujuan untuk mempermudah guru mengajar sesuai kemampuan murid, menyediakan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi, serta berkarya untuk menginspirasi rekan sejawatnya. 
 
“Untuk itulah dihadirkan empat produk dalam Platform Merdeka Mengajar, yaitu Asesmen Murid, Perangkat Ajar, Pelatihan Mandiri, dan Bukti Karya Saya. Empat produk tersebut akan membantu memudahkan guru untuk melaksanakan aktivitas mengajar dalam Implementasi Kurikulum Merdeka,” kata Zulfikar.
 
Pada bulan Juni mendatang akan diluncurkan fitur baru yaitu Komunitas Belajar. Kegiatan ini diselenggarakan agar guru-guru yang sudah bisa belajar secara mandiri dapat mengontekstualisasikan apa yang telah dipelajari dan saling berbagi praktik baik antarsekolah.
 
“Target penggunaan fitur ini adalah guru-guru yang ingin belajar dengan guru lainnya. Di sini nantinya, guru-guru juga dapat mengikuti (follow) komunitas lainnya. Kita menampung harapan guru-guru supaya mendapat wadah berdiskusi dengan sekolah-sekolah lainnya. Tidak hanya antar sekolah, nantinya bisa antarprovinsi,” terang Zulfikar.
 
Sementara itu Medira Ferayanti selaku Kepala Kelompok Kerja Program Sekolah Penggerak Kemendikbudristek mengungkapkan bahwa komunitas belajar memang sangat dibutuhkan agar guru-guru dapat saling berinteraksi dan berbagi informasi. 
 
“Dengan komunitas belajar, guru-guru dapat berinteraksi secara rutin untuk mendorong implementasi Kurikulum Merdeka. Selain itu komunitas dapat mendorong anggota agar selalu mendorong untuk meningkatkan diri,” terangnya.*** (Esha/Editor: Denty A/)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 3821 kali