Seri Webinar Implementasi Kurikulum Merdeka Ke-6 : Angkat Kearifan Lokal   07 Juni 2022  ← Back

Jakarta, Kemendikbudristek — Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan kembali menggelar Seri Webinar Implementasi Kurikulum Merdeka ke-6 dengan mengangkat tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada Jumat siang (3/6). Kali ini, Ditjen GTK menghadirkan pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kemendikbudristek, Zulfikri Anas sebagai pembicara utama. 

 

Dalam paparannya, Zulfikri mengungkapkan bahwa proyek Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu bentuk dari esensi nyata Kurikulum Merdeka. Mengutip dari pandangan Ki Hadjar Dewantara, kata Zulfikri, esensi dari Kurikulum Merdeka ialah memberikan ruang seluas-luasnya pada peserta didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.

 

“Untuk itu dunia pendidikan harus memberikan ruang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk menemukan cara terbaik bagi mereka sehingga potensi-potensi kemanusiaan yang sudah ada dalam diri mereka tumbuh dan berkembang dengan baik berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dilewati,” kata Zulfikri.

 

Zulfikri juga mengatakan bahwa proyek Profil Pelajar Pancasila berbeda dengan project best learning yang selama ini dikenal. Pada project best learning, menurut Zulfikri, mungkin terdapat langkah-langkah yang tidak cocok dengan anak atau siswa, sedangkan proyek Profil pelajar Pancasila lebih memberikan pengalaman nyata untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri anak-anak dan menguatkan karakter-karakter mereka sebagai manusia.

 

“Misalkan dari kepedulian mereka terhadap lingkungan, kepedulian mereka pada sesama manusia, kolaborasi, kemampuan mereka menyelesaikan masalah, bagaimana mereka menerima perbedaan, dan menyadari bahwa perbedaan itu merupakan kekuatan yang harus kita gunakan dalam rangka membangun harmoni dalam kehidupan,” lanjut Zulfikri.

 

Narasumber selanjutnya, Guru TK Dahlia 01, Kota Batu, Jawa Timur, Mayunita Nurlaila membagikan pengalamannya sebagai guru dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Ia mengungkapkan bahwa di lingkungan sekolahnya masih belajar dan terus berproses dalam Implementasi Kurikulum Merdeka. 

 

Dalam mengimplementasikan proyek ini, kata Mayunita, para guru berpegang pada tiga rujukan yaitu Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulus, Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022 tentang Standar Isi Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah; dan Permendikbudristek No. 56 tahun 2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka Pemulihan Pembelajaran (Kurikulum Merdeka) sebagai penyempurna kurikulum sebelumnya.

 

Dalam pemaparannya, Mayunita menggambarkan bagaimana mereka memulai membentuk ciri khas sekolah mereka dengan melakukan branding sebagai Sekolah Ndeso Milenial. Hal ini diakui karena mereka berada di daerah desa, daerah pinggiran Wisata Batu. Namun, menurut Mayunita, meskipun sekolahnya berada di wilayah desa, hal tersebut tidak mematahkan semangat mereka untuk terus bisa berimprovisasi dan bisa mengikuti arahan kebijakan perkembangan pendidikan.

 

“Sekolah kami lembaga kecil, bukan lembaga besar, kita hanya memiliki enam tenaga pendidik dan siswanya juga cuma 39 orang. Namun kami berupaya menggarap agar bisa menghadirkan pendidikan yang berkualitas,” kata Mayunita. 

 

Ia melanjutkan, langkah awal yang kami lakukan saat mendengar ada Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila adalah dengan berdiskusi bersama dan pada akhirnya mereka bersepakat untuk mengangkat kearifan lokal.

 

“Daerah kami merupakan sentra penghasil mawar terbesar di Kota Batu dan mawar ini dikirim ke berbagai daerah Nusantara. Dari hal ini muncul ide untuk membuat modul ajar (modul untuk pembelajaran proyek) untuk Paud Bunga Mawar. Kami juga memilih tema besar Aku Sayang Bumi, sehingga nanti ada hubungannya dengan tanam-menanam dan melestarikan ikon yang ada di desa kami,” tambah Mayunita dengan menambahkan bahwa modul ajar tersebut sudah mereka bagikan dan dapat diakses di Platform Merdeka Mengajar (PMM).

 

Mengenai konten dalam PMM yang menunjang pemahaman guru terkait Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Putri Amalia selaku Tenaga Ahli Teknologi Kemendikbudristek mengungkapkan, bahwa dalam pengimplementasian Kurikulum Merdeka PPM sudah menyediakan alur secara runut dalam PMM dan ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing. Putri juga mengungkapkan, dalam memahami Profil Pelajar Pancasila pun PMM sudah mempunyai konten yang menjelaskan lengkap mengenai hal tersebut.

 

Sementara itu Muhammad Rizki Satria selaku Tim Penyusun Panduan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Kemendikbudristek yang juga merupakan salah seorang guru mengungkapkan prinsip-prinsip projek Profil Pelajar Pancasila haruslah bersifat holistik, kontekstual, eksploratif, dan berpusat pada murid. (Arif/Dennis)

 

Sumber :

 


Penulis : Pengelola Siaran Pers
Editor :
Dilihat 1231 kali