Kajian Budaya, Politik dan Keamanan Siber Mahasiswa Indonesia di AS, Sumbangsih Cendekiawan Muda  04 Juli 2022  ← Back



Washington, D.C., 22 Juni 2022 --- Peradaban modern telah menyaksikan peran internet sebagai wadah komunikasi dan informasi, termasuk informasi politik. Masifnya penggunaan iinternet saat ini, khususnya dalam media sosial, berdampak pada keamanan dunia maya atau cyber security. Isu keamanan siber, khususnya tentang kejahatan siber (cyber crime) merupakan topik penting bagi Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan pengguna internet dan gawai terbanyak di dunia.
 
Hal ini diungkapkan Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Amerika Serikat, Rosan Roeslani, dalam Webinar Bincang Karya (Bianka), Selasa, (28/6). Diucapkan Dubes Rosan, era digital saat ini membuat pengguna internet semakin meningkat. “Internet menjadi sebuah platform publik baru yang mempengaruhi perkembangan politik di Indonesia. Penggunaan media sosial, contohnya, mampu meningkatkan kesadaran politik masyarakat sehingga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam politik,” ucap Rosan.
 
Namun, ditambahkan Dubes Rosan, peningkatan jumlah pengguna internet juga diikuti bertambahnya jumlah ancaman dunia maya atau cyber threats seperti terorisme siber, perundungan elektronik, stalking atau pengintaian, peretasan (hacking), pencurian identitas (identity theft), pembajakan piranti lunak (software piracy), penipuan di internet (internet fraud) dan lain sebagainya.
 
Untuk itu, Indonesia perlu meningkatkan sistem keamanan dunia mayanya. “Semoga ke depannya akan semakin banyak ahli di bidang keamanan siber untuk mengantisipasi ancaman-ancaman ini,” harap Rosan.
 
Direktur Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Wisnu Sardjono, mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak kajian dan talenta dalam bidang ilmu politik dan keamanan global untuk mencegah kejahatan global yang semakin merajalela.
 
“Pemerintah Indonesia terus berusaha meningkatkan jumlah profesional dan peneliti Ilmu politik dan kriminologi di Indonesia, salah satunya melalui LPDP dengan memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia untuk mengejar gelar Master dan Ph.D dalam bidang ilmu politik dan studi global di universitas-universitas terkemuka, termasuk di Amerika Serikat,” tutur Wisnu.
 
Senada dengan hal tersebut, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Republik Indonesia di Washington, D.C., Popy Rufaidah, mengungkapkan Bianka ditujukan bagi promosi minat studi ke Amerika Serikat sekaligus menjadi wadah komunikasi dan kerja sama bidang pendidikan maupun riset antara Indonesia dan Amerika Serikat bidang studi politik, kajian budaya dan keamanan siber.
 
“Semoga forum ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa, peneliti maupun para praktisi di dunia politik, keamanan global, dan kejahatan dunia maya untuk menjalin kerja sama dengan universitas di Amerika,” harap Atdikbud Popy.
 
Tiga mahasiswa program master dan doktoral asal Indonesia secara khusus diundang dalam acara untuk mempresentasikan riset terkini mereka. Muhammad Taufiq al Makmun, mahasiswa program doktor bidang American Cultural Studies di Bowling Green State University membagikan rencana riset disertasinya yang berjudul Globalized Solo: The Changing Landscape of an Indonesian City.
 
Menurut Taufiq, risetnya ini meneliti tentang bagaimana perkembangan budaya mempengaruhi perkembangan spasial atau lanskap sebuah kota, termasuk Kota Solo.
“Studi saya sangat terkait dengan pertumbuhan lanskap tata kota yang tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan kebudayaan yang dipengaruhi oleh budaya global. Bagi Kota Solo, kajian ini dapat menjadi bahan refleksi pertumbuhan kota dan sumber informasi bagi perencanaan pengembangan kota Solo ke depan,” jelas Taufiq.
 
Hadir pula Netty Herawaty, mahasiswa program doktor di School of Politics and Global Studies, Arizona State University. Netty tertarik mengkaji alasan terjadinya dinasti politik di lembaga legislatif di Indonesia melalui pendekatan institusional, menguji secara empiris relasi antara hubungan kekerabatan atau dinasti politik dan pemilihan calon legislatif di parlemen, dan konsekuensinya terhadap keterwakilan perempuan di Indonesia.
 
“Semoga riset saya bisa berkontribusi pada pengumpulan data hubungan kekerabatan di Indonesia yang sampai sekarang masih belum komprehensif, memberikan alternatif pendekatan pada riset politik di Indonesia yang kebanyakan menggunakan riset kualitatif, dan bisa memberikan rekomendasi kebijakan terkait dengan sistem pemilu di Indonesia,” ucap Netty.
 
Seorang awardee LPDP yang juga merupakan anggota Kepolisian Republik Indonesia, Laurensius Nevin Inderadewa, juga turut membagikan pengalaman studinya di New York University (NYU), School of Professional Studies. Setidaknya ada dua alasan mengapa Nevin memilih Amerika untuk melanjutkan studi Master of Science bidang Global Security, Conflict, and Cybercrime.
 
“Saya memilih studi di Amerika Serikat karena AS merupakan negara adidaya atau superpower yang  menjadi pusat perkembangan teknologi di dunia. Amerika juga memiliki sistem penegakan hukum yang komprehensif, baik dari alat-alatnya, alur kerjanya, risetnya, dan juga pembagian tugasnya yang membuat Amerika memiliki sistem penegakan hukum yang unggul di dunia,” tutur Nevin.
 
Randhika Gajjala, Professor of School of Media and Communications and of American Culture Studies Program, Bowling Green State University (BGSU), juga turut berpartisipasi dengan memberikan gambaran tentang program MA dan PhD bidang Kajian Budaya Amerika (American Culture Studies) di institusinya. Beragam sumber pembiayaan juga sempat disinggung Randhika dalam presentasinya.
 
“Kami memiliki beasiswa dan asistensi. Salah satu poin kunci di sini adalah bahwa asistensi tersebut sebagian besar untuk mengajar. Jadi kami menekankan bahwa mahasiswa kami belajar untuk dapat mengajar dan melatih mereka untuk pasar kerja dengan sangat baik,” jelas Randhika.
 
Sementara Magda Hinojosa, Director of School of Politics and Global Studies, Arizona State University, dalam presentasinya, mengatakan bahwa walaupun fakultasnya tergolong kecil, ini justru menjadi sebuah keuntungan tersendiri dikarenakan mereka dapat memberikan perhatian secara maksimal untuk  setiap mahasiswanya. “Kami bahkan mengetahui dengan detil nama-nama mahasiswa dan apa yang sedang dikerjakan,” terang Magda.
 
Selain itu, Magda meyakinkan audiens bahwa fakultasnya memberikan jaminan pembiayaan bagi mahasiswa dalam bentuk asistensi. Hal itu ditujukan agar mereka tidak khawatir tentang keberlangsungan studinya.
 
“Mungkin Fulbright memberikan dukungan dua tahun atau tiga tahun, kami memastikan mahasiswa memiliki dukungan untuk sisa waktu bersama kami sehingga mereka dapat menyelesaikan Ph.D mereka,” terang Magda.
 
Magda juga mengungkapkan fakultasnya memiliki kekuatan khusus dalam riset tentang konflik etnis dan agama, perempuan dan politik, penelitian hak asasi manusia, dan juga kampanye dan pemilihan.
 
Karen C. Krahulik, Associate Dean of Academic and Faculty Affairs, School of Professional Studies, New York University (NYU), universitas swasta terbesar di Amerika serikat, memfokuskan presentasinya pada School of Professional Studies (SPS) yang menawarkan program master. Karen juga memberikan informasi terkait Pusat Hubungan International yang NYU miliki serta beberapa program lain yang ditawarkan seperti Real Estate, Hospitality Marketing, dan Human Resources Management.
 
“Kami sangat fokus pada pelatihan profesional. Kami lebih banyak membahas tentang kesiapan berkarier daripada proyek penelitian yang lebih panjang dan penerbitan buku,” tutur Karen.
 
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Jamal Wiwoho,  menyatakan dukungan penuhnya terhadap acara ini. “Luar biasa, tema yang diangkat sangat relevan dengan isu-isu yang sedang berkembang saat ini, khususnya terkait kejahatan dunia maya yang marak terjadi,” tutur Jamal.
 
Acara yang dipandu oleh Dosen Universitas Lampung, Ari Darmastuti, merupakan kolaborasi antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, D.C. dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) serta Majelis Rektor Perguruan Tinggi negeri Indonesia (MRPTNI).
 
“Para peserta antusias menyimak presentasi para perwakilan kampus dan mahasiswa Indonesia. Rencananya, seri terakhir Bianka tahun 2022 ini akan digelar pekan depan secara daring melalui platform Zoom,” ucap Atdikbud Popy.
 
Rekaman siaran langsung Bianka Seri-40 Bidang Politik, Keamanan Global, dan Keamanan Dunia Maya dapat diakses pada tautan https://bit.ly/fb-watch-bianka40 pada laman resmi Facebook Atdikbud USA.*** (Lydia Agustina/ Seno Hartono/ Atdikbud Washington D.C.)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 2082 kali