Navigasi Usaha Kecil Menengah Lewat Potensi Pendidikan Kecakapan Wirausaha  14 Oktober 2022  ← Back



Sleman, Kemendikbudristek – Vionanda hanya bisa pasrah. Kondisi ekonomi orang tuanya yang pas-pasan, membuat ia tak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. “Saat itu saya bingung dengan tujuan hidup saya dan hanya bisa pasrah tanpa melakukan apa-apa,” ujar wanita yang akrab disapa Nanda.

Berbekal informasi dari mulut ke mulut, Nanda mendapat informasi kalau di LKP Budi Mulia Dua, menyelenggarakan pelatihan gratis melalui program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) yang digagas Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan Nanda. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendaftar sebagai peserta program tersebut. Nanda bersyukur, ia diterima sebagai salah satu peserta program PKW tahun 2021 untuk bidang street food and bakery. “Saya jadi bersemangat karena diberikan kesempatan untuk memiliki tujuan hidup,” ujarnya.

Di LKP Budi Mulia Dua, Nanda mengaku banyak belajar ilmu yang tak pernah diketahui sebelumnya, seperti membuat aneka jajanan dan bakery, baik secara teori maupun praktik. Nanda juga dibekali dengan ilmu kewirausahaan, mulai dari merintis dan mengelola sebuah usaha, pelayanan prima, hingga food photography. Ia juga mendapat ilmu pemasaran dari Godfood serta bimbingan langsung dari para chef profesional.

“Saya sangat antusias mengikuti pelatihan ini karena banyak hal baru yang saya dapatkan,” katanya.

Setelah pelatihan selama tiga bulan, Nanda diberikan modal usaha. Berbekal modal usaha itu, Nanda memberanikan diri untuk membuka usaha bakery. Nama usahanya, Nanda Bakery, yang berlokasi di Karangmojo, Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Selama menjalankan usaha, Nanda berusaha untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh di LKP Budi Mulia Dua Culinary School, mulai dari cara membuat kue, memasarkan produk, serta mengelola manajemen usahanya.

Nanda mengakui, mengawali usaha tentu tidak mudah. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Akan tetapi, ia pantang menyerah. Berbekal modal semangat untuk membantu ekonomi kedua orang tua, Nanda tak pernah letih untuk berjuang membesarkan usahanya. “Saya ingin membuktikan kalau saya mampu menghasilkan uang yang bisa membantu Ibu dan Bapak,” ujarnya bersemangat.

Alhasil, usahanya mulai berkembang. Salah satu makanan favorit yang dijual di toko kuenya adalah donat dengan berbagai macam rasa. Ada rasa coklat, keju, hingga strawberry. “Segmentasi pasar di tempat saya itu anak-anak. Mereka suka sekali dengan donat buatan saya,” ujar Nanda bangga.

Nanda mengaku, omzetnya selama satu bulan bisa mencapai Rp4,5 juta. Dari penghasilan itu, sebagian digunakan untuk mengembangkan usaha dan sebagian lagi untuk membantu ekonomi orang tua. “Alhamdulillah, saya sekarang bisa membantu ekonomi orang tua,” ujarnya bangga.

Kisah serupa juga dialami Rina Nur Hidayati, salah satu peserta program PKW tahun 2021. Tekun mengikuti program PKW, Rina kini telah memiliki usaha Rinn’s Catering, yang berada di Purwobinangun, Bimomartani, Ngeplak, Sleman, Yogyakarta.

Rina mengaku senang bisa mengikuti program PKW. Selain mendapat ilmu baru, dirinya juga mendapat bantuan usaha sebesar Rp10 juta yang diwujudkan dalam bentuk peralatan. “Dengan adanya alat, produksi bisa ditingkatkan dan omzet usaha saya juga meningkat,” ujarnya.
 
Rina bersyukur omzet usaha kateringnya kini sudah mencapai Rp5 juta per bulan. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Kemendibukristek dan LKP Budi Mulia yang telah membantu kami sehingga bisa mandiri dengan memiliki usaha,” ujarnya.
 
Perluasan Akses Pangsa Pasar

Menurut pimpinan LKP Budi Mulia Dua Dua Culinary School, Ani Sya’atun, LKP Budi Mulia Dua memilih pelatihan kewirausahaan bidang street food dan bakery karena peluang usaha kedua bidang itu masih terbuka lebar. Selain itu, modal yang dibutuhkan untuk usaha street food dan bakery juga tidak terlalu besar.

Peserta program PKW Platinum tahun 2021 di LKP Budi Mulia Dua berjumlah 20 orang. Selama tiga bulan mereka dilatih kewirausahaan. “Setelah mengikuti program ini, para lulusannya dapat membuka usaha street food, seperti mi ayam, bakso, siomai, batagor, bakmi jawa, sempol ayam, hingga pizza dan roti manis,“ tambah Ani.

Ani menjelaskan, dalam melaksanakan program ini pihaknya melakukan rekrutmen perserta didik dengan usia yang sudah dipersyaratkan. “Mereka yang tersaring dalam rekrutman ini adalah mereka yang berminat usaha di bidang kuliner,” katanya.

Selanjutnya, sebelum memberikan pelatihan keterampilan street food, para peserta program mengikuti materi kewirausahaan terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk mengubah pola pikir menjadi wirausahawan. “Kita memberikan materi apa yang harus dilakukan untuk memulai usaha,“ jelas Ani.

Dalam melaksanakan program ini, LKP Budi Mulia Dua juga membuat kurikulum yang bekerja sama dengan UMKM dan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). “Saran mereka kami racik menjadi kurikulum street food and bakery,” ujar Ani.

Selain itu, tambah Ani, pihaknya juga mendatangkan pelaku usaha yang bergerak di bidang kuliner. “Mereka menceritakan kisah sukses usaha untuk menjadi motivasi peserta didik,” jelasnya.
Ada banyak pelaku UMKM dan industri yang dilibatkan dalam program ini, seperti Shinta Catering, Larasati Catering, Kopi Kunden, Hotel Alana, serta Kalila Bakery. “Mereka secara bergiliran menyampaikan materi, mulai dari manajemen produksi, marketing, hingga manajemen SDM,“ tambah Ani.

LKP Budi Mulia Dua juga menggandeng perusahaan digital marketing, seperti Shopee. “Mereka diajarkan membuka lapak di Shopee,” katanya.

Untuk model pembelajarannya, LKP Budi Mulia Dua menggunakan dua metode. Pertama, blended learning, yakni pembelajaran yang menggabungkan strategi tatap muka di ruang kelas dan pembelajaran jarak jauh atau daring. “Saat itu masih suasana PPKM,” kata Ani.

Kedua, melakukan pembelajaran project based learning (PBL). Dalam PBL, peserta didik sudah membuka usaha sebenarnya dengan memproduksi dan menjual produknya. Sebelumnya, peserta didik juga diminta untuk membuat rencana bisnis. “Dari sana kita pinjamkan modal usaha dan selama dua minggu mereka menjalankan usaha betulan,” kata Ani.

Hasilnya, kini para peserta program sudah membuka usaha sendiri. “Ada yang berjualan nasi goreng, roti donat, dan sate tempe,” tambah Ani.

Selama menjalankan usaha, LKP Budi Mulia juga melakukan pendampingan rintisan usaha mereka selama enam bulan. Satu pendamping membimbing lima orang. Selama pendampingan, para pendamping secara rutin melakukan kunjungan ke tempat usaha. “Mereka dipantau perkembangan usahanya,” pungkas Ani. (Humas Setditjen Diksi/Andrew Fangidae/Denty A.)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 1671 kali