Menduniakan Karya Sastra Mastera dengan Pemanfaatan Teknologi Digital  21 September 2023  ← Back

Jakarta, Kemendikbudristek—Teknologi digital di bidang informasi dan telekomunikasi memungkinkan sebuah gerakan digalang secara cepat dan beruang lingkup luas karena waktu dan jarak lebur dalam suatu ruang virtual yang sangat partisipatoris. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi digital saat ini bukan hal yang asing termasuk dalam upaya menduniakan karya sastra.
 
“Jika sastra tidak memanfaatkan teknologi dan ruang digital secara kreatif, sastra akan lebih termarjinalkan dan bahkan kelak akan mati,” tutur Manneke Budiman dari Universitas Indonesia, salah satu pembicara kunci dalam Seminar Antarbangsa Kesusatraan Asia Tenggara (SAKAT). Acara yang berlangsung pada Rabu (20/9) di Aula Sasadu, Kantor Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta ini, mengangkat tema “Menduniakan Mastera dan Karya Sastra Mastera”.
 
Manneke Budiman mengungkap bahwa saat ini, para pengarang Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) masih cenderung bekerja secara sendiri-sendiri dan tidak memiliki jejaring antarbangsa yang efektif di Asia Tenggara. Padahal menurutnya, Mastera berpotensi untuk menjadi ujung tombak suatu integrasi kultural pada tingkat regional dengan memanfaatkan teknologi digital.
 
 “Tantangannya, mampukah sastra menjadi basis integrasi kultural di kawasan Asia Tenggara melalui kolaborasi dan penciptaan jejaring antarpengarang dan pembaca?” tanya Manneke. “Jawabannya, diperlukan sebuah platform bersama yang menyediakan berbagai fitur untuk membangun kolaborasi dan jejaring itu, termasuk juga membukakan berbagai pintu ke pemasaran dan monetisasi karya-karya sastra,” imbuhnya.
 
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa ruang digital menuntut sikap dan cara berkarya baru yang tidak soliter. Kata kunci penting yang berlaku adalah kolaborasi dan jejaring. Menurutnya, platform digital global dapat menyediakan ekosistem digital bagi para pengarang, pembaca, penerbit, sutradara, dan aktor lain untuk bertemu serta berkolaborasi.
 
“Platform Digital Sastra Mastera ini tidak untuk menggantikan pertemuan tahunan rutin para pengarang Mastera, tetapi akan diperlukan perubahan dalam format dan substansi forum pertemuan tatapmuka regular itu. Platform ini lebih ekonomis, berdaya jangkau luas, dan sustainable dalam jangka panjang. Namun, di saat bersamaan, platform ini juga memerlukan satu tim pengelola antarbangsa untuk menjaga keberlangsungan, mengupayakan ketercapaian visi dan tujuan Mastera, serta memfasilitasi kerja sama lebih erat antara pengarang se-Asia Tenggara,” jelas Manneke. Ia pun berharap, platform tersebut nantinya memungkinkan karya-karya pengarang Asia Tenggara dapat diakses secara global dalam rangka menduniakan sastra Asia Tenggara.
 
Menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dalam membangun suatu ekosistem digital bagi Mastera, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) selaku Ketua Mastera Indonesia, E. Aminudin Aziz, menyampaikan bahwa kolaborasi adalah nilai yang diperlukan dalam mengembangkan kesusatraan di era digitalisasi saat ini.
 
“Di antara strategi dalam membuanakan Mastera dan karya sastranya adalah 1) mempromosikan berbagai kegiatan Mastera oleh negara anggota; 2) menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga internasional, termasuk dengan Sekretariat Asean; serta 3) meningkatkan akses dan distribusi karya sastra Mastera,” jelas Kepala Badan Bahasa.
 
Salah satu poin dari tujuh standar sastra dunia adalah aspek universalitas di mana sastra dapat diminati semua orang tanpa memandang budaya, ras, jenis kelamin, dan waktu; melintasi batasan gender, ras, dan budaya. “Pendekatan digital menjadi alternatif solusi yang memungkinkan pemajanan dan keterjangkauan sastra di  masyarakat, baik lokal, nasional, maupun internasional,” pungkasnya.
 
Sekilas tentang SAKAT

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menyelenggarakan kegiatan Seminar Antarbangsa Kesusatraan Asia Tenggara (SAKAT). SAKAT merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera).
 
SAKAT pada awalnya merupakan kegiatan dwitahunan yang digagas bersama oleh negara-negara pendiri Mastera, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia. SAKAT pertama kali diselenggarakan tahun 1999, di Malaysia.
 
Mulai tahun 2010, SAKAT diselenggarakan secara bergantian setahun sekali, di negara tempat berlangsungnya Sidang Mastera. Indonesia telah menyelenggarakan SAKAT pada tahun 2010, 2013, 2017. Tahun 2023 ini, Indonesia kembali menyelenggarakan SAKAT, sekaligus menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan Sidang ke-27 Mastera.
 
Tujuan SAKAT adalah 1) mendiseminasikan alih wahana yang lahir di negara-negara anggota Mastera, yang telah dilakukan Mastera sejak tahun 2012, 2) menggali informasi situasi alih wahana di setiap negara anggota, 3) melihat seberapa alih wahana tersebut telah berkembang dan diterima oleh masyarakat sastra di negara-negara anggota Mastera, serta 4) menjadi sarana tukar pikiran perihal alih wahana setelah dilakukan pembahasan dan diskusi.*** (Penulis: Denty A./Editor: Meryna A.)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 263 kali