Implementasi MBKM, Dosen Kampus di Indonesia Laksanakan Program Pengabdian Masyarakat di SIR  15 November 2023  ← Back


Riyadh, Kemendikbduristek --- Sebagai implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), dua dosen dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang dan Universitas Islam Nahdatul Ulama (Unisnu) Jepara melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Sekolah Indonesia Riyadh (SIR) pada tanggal 5 s.d. 11 November 2023. Kedua dosen tersebut adalah Ma’as Shobirin dan Fathur Rohman. 
 
Program pengabdian kepada masyarakat ini berupa penguatan Islam Wasathyah dan Nasionalisme kepada guru SIR. Kegiatan PKM diawali dengan mewawancarai kepala sekolah dan wakil kepsek, dilanjutkan dengan observasi terhadap guru dan siswa, sosialisasi moderasi beragama kepada guru, desain rencana pojok moderasi beragama bersama siswa dan diakhiri dengan focus group discussion (FGD) bersama para guru sasaran khusus.
 
“Guru sasaran khusus adalah guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Seni,” ucap Ma’as Shobirin.

Saat membuka kegiatan sosialisasi ‘Penguatan Moderasi Beragama Dan Nasionalisme Bagi Guru Sekolah Indonesia Riyadh’ , pada Selasa, (7/11), Kepsek SIR Mustajib, menandaskan urgensi dan arti penting kehadiran moderasi beragama dalam konteks pembinaan terhadap para siswa.

Diuraikan Mustajib, jika moderasi beragama dimaknai sebatas bertoleransi, sepertinya saat ini moderasi beragama belum begitu mendesak bagi siswa dikarenakan mereka kini tinggal di lingkungan komunitas yang beragama sama, yaitu Islam. “Tidak ada perbedaan,” tegasnya.

Namun demikian, lanjut Mustajib, urgensi itu terasa krusial dan sangat mendesak jika di suatu kesempatan nanti para siswa atau alumni SIR balik ke Indonesia. Mereka akan menemukan nuansa perbedaan yang nyata dalam masyarakat. Ada perbedaan agama, budaya, bahasa, suku, asal dan lain sebagainya.

“Kondisi itu sangat membutuhkan toleransi,” Mustajib meyakinkan.

“Jika ditelusuri nilai-nilai moderasi bergama yang lain seperti pesan imperatif untuk tidak bersikap ekstrim dalam beragama, adil, dan keseimbangan, kesadaran dan implemetasi moderasi beragama semakin mendesak untuk diperkenalkan dan dibiasakan kepada para siswa,” imbuh Mustajib.

Mengutip Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, Ma’as Shobirin memaknai moderasi beragama sebagai cara pandang, sikap, atau perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, adil, dan tidak ekstrem dalam beragama.

Ditambahkan, dalam perspektif Islam, moderasi digambarkan sebagai pososi nilai tengah-tengah antara liberalism dan Islamism.

“Dan inti dari moderasi Islam sendiri adalah keadilan, keseimbangan, dan toleransi,” imbuh Ma’as – demikian sapaan akrabnya.

Lebih lanjut Ma’as, pengajar di Unwahas itu, memaparkan bahwa moderasi beragama ala Indonesia yang bercirikan komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap budaya lokal harus diadaptasikan dan dipromosikan ke warga sekolah dan warga lainnya.

“Lembaga pendidikan menjadi gerbang utama dalam upaya penguatan moderasi beragama dan nasionalisme. Dan guru menjadi pelaku utama dalam penanaman sikap moderasi beragama dan semangat nasionalisme,” rinci dosen penulis buku Alfabet Kehidupan itu.

Dalam paparannya yang dilakukan secara bergantian dengan Ma’as, Fathur Rohman memaparkan prinsip-prinsip moderasi beragama. Meliputi, tawassuth (moderat), I’tidal (adil), tasamuh (toleran), syura (musyawarah), qudwah (keteladanan), muwathanah (menghargai negara bangsa) dan al-la ‘unf (anti kekerasan).

“Dan termasuk prinsip Ishlah. Yakni, mengutamakan prinsip kreatif inovatif untuk mencapai keadaan lebih baik, yang mengakomodasi perubahan dan kemajuan zaman dengan berpijak pada kemaslahatan umum,” imbuh Fathur – panggilan akrabnya.

Selanjutnya, dijelaskan cara-cara menumbuhkembangkan moderasi bergama di sekolah. “Prinsip-prinsip moderasi beragama tersebut dapat internalisasi melalui budaya sekolah, budaya kelas dan pengelolaan kegiatan siswa,” ucap dosen dari Unisnu itu.

Termasuk dalam budaya sekolah atau school culture, sebagaimana diungkapkan Fathur, adalah program-program sekolah seperti suasana dan tampilan sekolah, interaksi antarwarga sekolah, quote kata-kata bijak di lingkungan sekolah, pembiasaan peserta didik dan penyediaan buku-buku bacaan. Sementara, classroom culture mencakup kegiatan intrakurikuler, pengelolaan kelas, model pembelajaran dan projek Penguatan Profil Pancasila (P5).

“Internalisasi juga bisa melalui student activities manajement berupa kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan kerohanian Islam dan kegiatan OSIS” ucap Fathur menghakhiri presentasi.
Sebelum pelaksanaan sosialisasi, telah dilaksanakan desain rencana pojok moderasi beragama bersama siswa. Ma’as menuturkan adanya komitmen bersama dari peserta didik dalam mengembangkan pojok moderasi di SIR. Ditambahkan, pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) menjadi penggerak dalam mengkampanyekan moderasi beragama dan nasionalisme.

“Kami sepakat berkolaborasi dengan menghasilkan sajian konten dan narasi keagamaan di ruang digital,” ucap Ma’as yang telah mempublikasi 6 judul bukul itu.
Secara terpisah saat ditanya tentang materi dan rekomendasi focus group discussion (FGD) bersama para guru sasaran khusus, Fathur menuturkan bahwa FGD terfokus pada upaya pengembangan pemahaman diri guru terhadap moderasi beragama”.

“Rekomendasinya, agar para guru terus memberi ruang kepada para siswa dalam menelurkan gagasan dan ide melalui program pojok moderasi,” pungkas Fathur. (Mustajib)
Sumber :

 


Penulis : pengelola web kemdikbud
Editor :
Dilihat 263 kali