Guru Alfa Siap Kawinkan Budaya Minang dan Eropa di Perancis  24 April 2017  ← Back



Jakarta, Kemendikbud
  –   “Saya akan membuat roti isi   rendang yang sudah dimodifikasi,” celetuknya saat ditanya tentang apa ide terkait budaya Minang dan Eropa  yang segera diaplikasikan seusai pelatihan.  Ide tersebut  diungkapkan Alfafahriati, guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 9 Padang yang menjadi salah satu dari 18 peserta pelatihan untuk pendidik kejuruan di Perancis.

Alumni Jurusan Tata Boga di Universitas Negeri Padang tahun 2001 ini bersyukur bisa terpilih dari ratusan pelamar yang diseleksi oleh pemerintah  Indonesia dan Pemerintah Perancis. "Ibu Kepala Sekolah   yang mendaftarkan ke P4TK. Seleksinya berdasarkan wawancara. Prosesnya cukup cepat,” ungkap perempuan yang akrab dipanggil Alfa tersebut di kegiatan pembekalan di Jakarta, Minggu, (19/4/2017).

Pelatihan yang diselenggarakan oleh   Kementerian Pendidikan dan   Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Pendidikan Nasional, Pendidikan Tinggi dan Penelitian (MENESR) Republik Perancis  ini berlangsung mulai 24   April   sampai dengan 17 Juni 2017.  Peserta pelatihan akan disebar ke tiga kota yaitu kota Fécamp, Nice, dan Toulouse di Perancis  untuk memperdalam keahlian di bidang energi terbarukan, aeronautika dan pariwisata.

Sebelum diberangkatkan, Alfa   dan 17 orang peserta   pelatihan lainnya mengikuti kegiatan pembekalan  (pre-departure)  yang difasilitasi   oleh narasumber dari Pemerintah Perancis di Jakarta. Dalam kegiatan pembekalan, Alfa diajak untuk lebih memahami program pelatihan, tugas-tugas yang harus dikerjakan selama pelatihan, pengetahuan  berbahasa Perancis untuk keseharian, serta   pengetahuan budaya dan sistem pendidikan di   Perancis.  “Saya berharap  belajar banyak di sana. Belajar  me-manage,” kata Alfa bersemangat.

Direncanakan, Alfa bersama guru SMK dari Cirebon dan Jakarta akan diberikan materi pelatihan  mengenai manajemen wisata, manajemen hotel dan manajemen kejuruan tata boga di kota Nice,   Perancis. “Kebetulan saya di Padang bertugas sebagai koordinator di kitchen factory,” ujar Alfa saat ditanya mengenai relevansi pelatihan ini dengan tugasnya sebagai pendidik bidang kejuruan tata boga.

Alfa sangat bersemangat dengan kesempatan belajar di Perancis kali ini. Selama ini, ia hanya dapat menyimak tentang kuliner Perancis yang mashyur melalui buku, televisi, dan Internet saja. Ia tak sabar menyaksikan langsung proses pengolahan beragam roti, kue kering dan produk kuliner lain seperti olahan coklat dari dapur chef Perancis. Selain pengetahuan tentang tips pengolahan kue dan roti, ia juga berharap dapat menambah wawasan mengenai pengelolaan usaha boga. “Ilmu itu sudah ditunggu sama teman-teman di MGMP (Majelis Guru Mata Pelajaran) Sumatra Barat,” ujar penggemar roti dan kue kering tersebut.

Menurut Alfa, saat ini provinsi Sumatra Barat giat mengembangkan sektor pariwisata. Sebagai sektor strategis nasional, industri pariwisata tidak lagi hanya menjual keindahan alam, namun juga keunikan budaya, salah satunya adalah kuliner nusantara. Kesempatan belajar di Perancis diyakini Alfa dapat membuka wawasannya dan dimanfaatkan untuk berkontribusi dalam mengembangkan industri pariwisata di tanah minang.

Sebagai pendidik, perempuan kelahiran bulan Mei ini memiliki keinginan untuk terus belajar. Tak hanya  katering, Alfa   juga  mengelola usaha kue kering   bersama alumni sekolahnya. Usaha yang berangkat dari hobi ini sudah ditekuninya selama 20 tahun. Sembari mengajarkan keterampilan, ia menularkan dan membangkitkan jiwa kewirausahaan para siswa tempatnya mengajar. Peningkatan kapasitas guru-guru SMK menjadi fokus Kemendikbud sampai dengan tahun 2019.

Presiden Joko Widodo menaruh harapan pada SMK untuk meningkatkan produktivitas bangsa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) berharap para guru yang mengikuti pelatihan   mendapatkan pengalaman belajar yang dapat ditularkan ke rekan sejawatnya. (Danasmoro Brahmantyo)


Sumber : BKLM

 


Penulis : Danasmoro Brahmantyo
Editor : Anandes Langguana
Dilihat 11918 kali